Don Quixote dari La Mancha

Oleh Miguel de Cervantes Saavedra

 

Bagian Pertama

Buku Satu

Bab 1

Menggambarkan keadaan dan kesibukan sang pria jatmika masyhur Don Quixote dari La Mancha

 

Di suatu wilayah di La Mancha, di tempat yang namanya tak begitu penting untuk kuingat, belum lama ini hiduplah seorang pria, seorang yang menyimpan lembing dan perisai tua di sebuah rak dan memelihara seekor kuda kurus dan seekor anjing balap. Sesekali makanan rebus, lebih sering daging sapi ketimbang domba, kentang tumbuk dan daging cincang di kala malam, telur dan puasa di hari Sabtu, kacang miju di hari Jumat, dan terkadang burung dara muda untuk periang hari Minggu—semua ini menghabiskan tiga perempat dari total pendapatannya¹. Sisanya habis untuk tunik wol lembut dan celana beludu dan kaus kaki berbahan sama untuk hari-hari pestapora, sementara hari-hari biasa cukup mengenakan baju kasar berwarna coklat keabu-abuan. Ia memiliki pengurus rumah tangga berusia empat puluhan, seorang keponakan tidak lebih dari dua puluh tahun, dan seorang pria-pengurus-segalanya yang mengerjakan semua hal dari memasang pelana kuda hingga memangkas tetumbuhan. Pria jatmika kita ini kurang lebih berusia lima puluh tahun; kulitnya kena papar cuaca, dagingnya kurus surut, mukanya ceking, dan ia seorang yang bangun sangat dini dan pecinta berat olahraga berburu. Beberapa berkata nama keluarganya adalah Quixada, atau Quexada, sebab ada satu-dua pertentangan di antara para pengarang yang menulis riwayat tentangnya, meski dugaan yang patut dipercaya tampaknya menyatakan bahwa namanya ialah Quexana. Namun hal ini tidak terlalu penting untuk cerita kita; yang dalam pengisahannya tiada sama sekali penyimpangan dari yang nyata.

            Dan begitulah, dikisahkan pria jatmika yang telah disebutkan di atas menghabiskan waktu luangnya—yang berarti nyaris sepanjang tahun—untuk membaca buku-buku kekesatriaan dengan ketekunan dan keseriusan yang melimpah hingga ia nyaris lupa akan perburuan dan bahkan urusan administrasi tanah miliknya; dan dalam rasa ingin tahunya dan ketololannya yang meluap-luap ia sampai menjual tanah perkebunannya yang cukup luas demi membeli buku-buku kekesatriaan untuk ia baca, dan ia mengangkut buku-buku tersebut sebanyak yang mampu ia bawa ke dalam rumahnya; dan ia pikir tiada yang lebih indah selain karangan-karangan Feliciano de Silva¹¹ yang berjasa, sebab kejernihan prosanya dan kompleksitas bahasanya bagi lelaki jatmika kita tampak lebih berharga dari mutiara, terutama ketika ia membaca bagian pernyataan-pernyataan dan surat-surat cinta, kadangkala ia menemukan tulisan semacam: Alasan dari ketiadaan alasan alasanku malah memperlemah alasanku yang memberiku alasan untuk mengeluhkan kecantikanmu. Dan juga ketika ia membaca: … surga-surga yang mahatinggi meninggikan keilahianmu dengan bintang-bintang dan memberimu kepatutan untuk menerima ganjaran yang patut diterima keagunganmu.

             Kata-kata semacam ini menyebabkan lelaki malang kita kehilangan akal sehatnya, dan ia menghabiskan malam-malamnya tanpa tidur untuk berusaha memahami tulisan tersebut dan menyarikan maknanya, sesuatu yang Aristoteles sendiri, andai ia bangkit dari kematian hanya untuk membacanya, tidak akan mampu menguraikan atau mengartikannya. Lelaki jatmika kita sedikit kecewa dengan luka-luka yang ditorehkan maupun ditanggung Don Belianís, sebab dalam bayangannya, tak peduli betapa hebat tabib dan ahli bedah yang mengobatinya, ia tetap memiliki wajah dan sekujur tubuh penuh dengan birat dan bekas luka. Meski begitu, ia memuja pengarangnya karena telah mengakhiri buku tersebut dengan janji akan petualangan yang tak berujung, dan ia terkadang merasakan hasrat untuk meraih penanya dan menorehkan akhir yang telah dijanjikan di sana; dan dapat dipastikan ia sudah melakukannya, atau bahkan telah menerbitkannya, jika tidak ada pikiran lain yang lebih agung dan lebih gigih mencegah dirinya untuk melakukan hal tersebut. Ia terkadang terlibat dalam suatu diskusi dengan pendeta desa—seorang yang berpendidikan, lulusan Sigüenza¹¹¹—berkenaan dengan siapa kesatria yang lebih hebat, Palmerín dari Inggris atau Amadís dari Gaul; namun Master Nicolás, tukang cukur desa itu, berkata bahwa tiada yang mampu menandingi Kesatria dari Phoebus, dan jika ada yang bisa disandingkan dengannya, itu adalah Don Galaor, saudara Amadís dari Gaul, sebab ia patut dalam segala hal: seorang kesatria yang apa adanya, tidak secengeng saudaranya dan memiliki keberanian yang tak perlu dipertanyakan.

            Singkatnya, pria jatmika kita menjadi sangat terobsesi dengan bacaan sehingga ia menghabiskan malam-malamnya untuk membaca dari petang hingga fajar dan hari-harinya untuk membaca dari fajar hingga petang, dan dengan waktu tidur yang sangat kurang dan waktu membaca yang berlimpah otaknya pun mengering, membuat ia kehilangan akal sehatnya. Fantasinya penuh dengan apa pun yang telah ia baca dari buku-bukunya, dari sihir hingga pertarungan, pertempuran, tantangan, luka-luka, petualangan, cinta, siksaan, dan segala ketololan lainnya, dan ia menjadi begitu percaya pada imajinasinya akan kebenaran muluk-muluk dan khayalan sesat yang tumpah dari bacaan-bacaannya sehingga baginya tiada lagi riwayat di dunia ini yang lebih benar. Ia akan berkata bahwa El Cid Rue Díaz¹¹¹¹ adalah seorang kesatria yang sangat hebat meski tidak dapat disandingkan dengan Amadís, Kesatria Berpedang Menyala, yang dengan satu tebasan mampu memotong sesosok raksasa kolosal yang ganas menjadi dua bagian. Ia adalah pemuja Bernardo del Carpio¹¹¹¹¹ sebab di Roncesvalles² ia telah membunuh Roland yang diguna-guna dengan memakai taktik Hercules kala ia menghancurkan Antaeus, sang putra Bumi, dalam genggamannya. Ia menyanjung Morgante si raksasa sebab, meski ia berasal dari ras raksasa, yang seluruhnya angkuh dan kurang ajar, hanya dirinya seoranglah yang memiliki sifat ramah dan santun. Namun, lebih daripada yang lain, ia mengagumi Reinaldos de Montalbán²², terutama ketika ia melihatnya muncul dari kastilnya dan merampok siapa pun yang ia temui, dan ketika ia menyeberangi lautan dan mencuri berhala Mohammad yang seluruhnya terbuat dari emas, sebagaimana dikisahkan dalam riwayatnya. Ia rela menukar pengurus rumahnya, dan bahkan keponakannya, demi satu kesempatan langka menempeleng Guenelon sang penghianat²²².

            Kenyataannya ialah di kala akal sehatnya telah sama sekali sirna, ia mendapat satu pikiran aneh yang bahkan tidak pernah menghinggapi kepala orang sinting mana pun, bahwa penting dan perlu baginya, demi kehormatan dirinya sendiri maupun demi baktinya kepada negara, untuk menjadi seorang kesatria pengembara dan menjelajahi dunia bersama baju zirah dan kudanya untuk mencari petualangan dan melibatkan diri ke dalam segala hal yang melibatkan kesatria seperti dalam kisah-kisah yang telah ia baca, membenarkan segala kekeliruan dan, dengan mengambil kesempatan tersebut dan menempatkan dirinya ke dalam bahaya dan mengakhiri segala kebatilan, akan ia menangkan ketenaran abadi dan kemasyhuran yang kekal. Pria malang ini sudah membayangkan dirinya sendiri memakai mahkota, dimenangkan oleh keperkasaan tangannya, dari kerajaan Trebizond, setidak-tidaknya; dan dengan gagasan-gagasan yang baginya sangat masuk akal ini, dan dibuai oleh kenikmatan yang tak biasa dari pemikiran-pemikiran tersebut, ia segera bergegas untuk mewujudkan apa yang sungguh didambakannya itu. Dan hal pertama yang ia lakukan adalah berusaha untuk membersihkan baju zirah yang dulu dimiliki kakek buyutnya dan, dalam kondisi berlumur karat dan jamur, telah menghabiskan bertahun-tahun lamanya membusuk dan dilupakan di sebuah pojokan. Begitu gigih ia berusaha untuk membersihkan dan memperbaikinya, namun ia menemukan beberapa kecacatan, di mana alih-alih sebuah helm perang lengkap dengan pelindung leher, yang ia dapati hanyalah sebuah penutup kepala menyedihkan; tapi ia mencoba memperbaikinya dengan usaha sendiri, dan dari selembar papan kayu ia merancang sesuatu berbentuk separuh helm yang, ketika dipasangkan pada penutup kepala, terlihat seperti sebuah helm perang sungguhan. Dalam rangka menguji kekuatan dan ketahanan helm tersebut kala menerima serangan, ia mengeluarkan pedangnya dan menghantam benda itu dua kali, dan pada pukulan pertama dalam sekejap ia menghancurkan sesuatu yang telah menghabiskan waktu satu minggu untuk dikerjakan; ia tidak mampu menahan kekecewaannya pada kenyataan betapa mudah ia menghancurkan benda tersebut, dan untuk melindunginya dari bahaya semacam itu, ia membuat lagi yang baru, kini dengan menempatkan bilah-bilah besi di sisi dalam helm sehingga membuatnya bangga akan kekuatannya; dan, tidak ingin menjajalnya dalam suatu percobaan serangan lagi, ia menjunjung benda itu dan menerimanya sebagai sebuah helm perang yang nyaris sempurna.

            Lalu ia pergi menengok kudanya, dan meski tapalnya menunjukkan keretakan yang lebih parah ketimbang penutup kepala pemiliknya dan terlihat lebih mengenaskan daripada kuda milik Gonnella, yang tantum pellis et ossa fuit²²²², tampak baginya bahwa Buchepalus milik Alexander dan Babieca milik El Cid bukanlah tandingannya. Ia menghabiskan empat hari memikirkan nama yang cocok untuk calon tunggangannya; sebab—seperti yang dikatakannya pada diri sendiri—tak selayaknya kuda milik para kesatria masyhur dan seekor kuda yang unggul, tak memiliki nama yang pantas; ia mencari sebuah nama jitu yang mampu menggambarkan keadaan kuda itu sebelum tuannya menjadi seorang kesatria pengembara dan bagaimana keadaannya kini; sebab ia berpikiran bahwa jika sang tuan mengubah keadaannya, maka sang kuda juga harus mengubah namanya menjadi sesuatu yang mampu meraih ketenaran dan pengakuan akan kedudukan dan pekerjaan baru yang layak disandangnya; dan begitulah, setelah sekian banyak nama ia susun dan bongkar, kurangi dan tambahi, rusak dan perbarui dalam ingatan dan imajinasinya, ia akhirnya memutuskan untuk memanggil sang kuda Rocinante²²²²², sebuah nama yang, menurut pendapatnya, mulia, merdu, dan reflektif dalam menjelaskan keadaannya kala masih menjadi kuda biasa, sebelum menjadi dirinya yang sekarang, seekor kuda paling terkemuka di seluruh dunia.

            Setelah memberikan nama kepada sang kuda, sebuah nama yang baginya terdengar begitu mantap, kini ia ingin memberi nama pada dirinya sendiri, dan ia menghabiskan delapan hari hanya untuk mempertimbangkan hal ini, dan akhirnya ia menjuluki dirinya sendiri Don Quixote³, yang menjelaskan mengapa, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, para penulis riwayat yang maha benar ini bersikukuh bahwa lelaki jatmika kita, tanpa perlu diragukan lagi, bernama Quixada dan bukan Quexada, sebagaimana dinyatakan beberapa periwayat lain. Bagaimanapun, mengingat bahwa Amadís sang pemberani tidak dipanggil Amadís begitu saja namun juga dibubuhi nama kerajaannya demi mengharumkan tanah airnya, ia pun, seperti seorang kesatria teladan, ingin menambahkan nama tempat asalnya ke dalam julukan barunya, maka ia menyebut dirinya sendiri Don Quixote dari La Mancha³³, yang dengan demikian, menurut pandangannya, menjelaskan dengan terang silsilah dan asal daerahnya dan memberi kehormatan pada tanah airnya dengan menjadi bagian dari gelarnya.

            Setelah membersihkan baju zirah dan menyempurnakan penutup kepala menjadi sebuah helm tempur, dan setelah memberi nama pada sang kuda dan memutuskan untuk memberi nama pada dirinya sendiri pula, ia menyadari bahwa hal terakhir yang mesti dilakukannya adalah mencari seorang wanita untuk dicinta; sebab seorang kesatria pengembara tanpa kekasih hati ibarat sebatang pohon tanpa daun dan buah, sebongkah tubuh tanpa sukma. Ia berkata pada diri sendiri:

            “Andaikan aku, diakibatkan oleh dosa-dosaku, atau oleh keberuntunganku, berjumpa dengan sesosok raksasa di suatu tempat, seperti yang biasa menimpa seorang kesatria pengembara, dan aku merobohkannya dalam satu serangan, atau mengiris tubuhnya menjadi dua, atau, singkatnya, menaklukan dan mengalahkannya, tidakkah elok untuk memiliki seseorang yang kepadanya aku bisa mengirim sang raksasa sehingga ia akan datang dan berlutut di hadapan dara manisku itu, dan berkata ramah dalam nada putus asa: ‘Saya, yang mulia, adalah Caraculiambro sang raksasa, penguasa dari pulau Malindrania, kalah dalam pertarungan satu lawan satu oleh kesatria pujaan sejuta umat Don Quixote dari La Mancha, yang mengutus saya untuk berlutut di hadapan anda, sehingga andalah yang memutuskan nasib saya kini’?”

            Oh, betapa melambung hati kesatria teladan kita kala mengucapkan kata-kata tersebut, dan bahkan semakin melambung ketika ia menemukan seorang yang pantas ia jadikan pujaan hatinya! Dipercaya bahwa di desa terdekat hiduplah seorang gadis petani menawan yang pernah membuat ia jatuh hati, meski sang gadis, sesungguhnya, tak pernah mengetahuinya. Nama gadis itu Aldonza Lorenzo³³³, dan ia pikir tidak jadi masalah andai memberi gadis itu sebuah nama, dan, setelah mencari sebuah nama yang tidak berbeda jauh dari namanya sendiri dan yang mampu memberi kesan seolah itu nama seorang putri kerajaan dan nyonya besar, ia memutuskan untuk menjulukinya Dulcinea dari Toboso³³³³, sebab dia berasal dari Toboso, sebuah nama yang, dalam pandangannya, merdu dan indah dan sarat makna, sebagaimana nama-nama lain yang telah ia berikan pada dirinya sendiri dan pada segala hal yang berhubungan dengannya. []

 

Catatan:

¹ : Di sini Cervantes menuliskan gambaran khas kehidupan seorang dari keluarga baik-baik di pedesaan. Petunjuk mengenai kelas sosial salah satunya tampak dari pilihan makanan Don Quixote. Daging sapi, misalnya, lebih murah ketimbang daging domba.

¹¹ : Pengarang beberapa novel kekesatriaan; kutipan yang disebutkan Cervantes adalah contoh bentuk kalimat yang memenuhi isi buku-buku tersebut, sesuatu yang membuat Don Quixote jadi gila.

¹¹¹ : Sebuah alusi yang ironis: Sigüenza adalah sebuah perguruan tinggi kecil, dan lulusannya terkenal sebagai orang-orang yang kurang terdidik.

¹¹¹¹ : Tokoh dalam sejarah (dari abad kesebelas) yang kerap muncul dalam legenda dan kesusastraan.

¹¹¹¹¹ : Pahlawan legendaris, tokoh utama beberapa balada, puisi epik dan lakon.

² : Sebuah situs di Pirenia, dalam istilah Perancis disebut Roncesvaux, tempat Karel yang Agung melawan Saracen (pasukan Islam) pada tahun 778.

²² : Pahlawan dalam chansons de geste (semacam puisi epik di dalam kesusastraan Perancis); dalam beberapa versi Spanyol, ia turut ambil bagian dalam pertempuran Roncasvalles.

²²² : Seorang pengkhianat yang bertanggung jawab atas kekalahan pasukan Karel yang Agung di Roncesvalles.

²²²² : Pierro Gonnella, seorang pelawak istana Ferrara, memiliki seekor kuda yang terkenal kurus. Frasa berbahasa Latin itu berarti “hanya tulang berbalut kulit”.

²²²²² : Rocín berarti “kuda”; ante berarti “sebelum”.

³ : Quixote berarti bagian dari baju zirah yang menutupi bagian paha.

³³ : La Mancha bukanlah kerajaan dari abad pertengahan yang lekat dengan tradisi kesatria.

³³³ : Aldonza, dulu dianggap sebagai nama yang lumrah dan kampungan, berkonotasi lucu.

³³³³ : Namanya berpangkal pada kata dulce, yang berarti “manis”. 

 

 

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari terjemahan Inggris Edith Grossman, Don Quixote (2005, Ecco), karya Miguel de Cervantes Saavedra yang (bagian pertamanya) terbit pertama kali pada tahun 1605.)

Monster Kepala Seribu, Laura Santullo

Baru pada bab kedualah saya sadar bahwa novel Uruguay ini dikisahkan melalui banyak narator, mengingatkan saya akan novel-novel Faulkner dan Bolaño. Bedanya, jika Faulkner menggunakan arus kesadaran (yah, bayangkan kamu menancapkan earphone ke dalam otak manusia dan mendengarkan isi kepalanya), tokoh-tokoh dalam Monster Kepala Seribu menceritakan kisahnya kepada seseorang atau beberapa orang, entah kepada penyidik kepolisian atau di depan pengadilan. Bab “Dia” berisi penuturan Sonia Bonet, sedangkan bab “Orang-orang Lainnya” berisi penuturan tokoh-tokoh yang terlibat di dalam cerita, tanpa ada penjelasan terang siapakah yang sedang berbicara; kedua jenis bab ini berkelindan hingga ditutup oleh bab “Si Anak Lelaki” yang disuarakan Dario Bonet.

Meski begitu, sejak halaman pertama saya sadar bahwa ini novel kafkaesque: kita bertemu dengan keluarga Bonet yang depresi karena tersesat di dalam rimba birokrasi. Sonia dan putranya, Dario, mendatangi kantor perusahaan asuransi Alta Salud pada suatu pagi dan lagi-lagi ia kesulitan menemui dokter koordinator yang menangani kasus suaminya. Perempuan yang berada di meja resepsionis berkata bahwa sang dokter sudah pulang. Sonia marah dan mulai mengancam—bagaimanapun, suaminya sedang sekarat dilahap kanker di rumah dan mereka tak memiliki pegangan apa-apa lagi selain klaim asuransi tersebut. Ternyata, sang dokter masih ada di sana, dan Sonia melihatnya. Dari titik inilah ia mulai kehilangan kontrol diri. Ia mengancam si dokter dan akhirnya si dokter menyuruhnya untuk mendatangi direksi perusahaan yang lebih berwenang. Ia mendatangi dua orang direksi perusahaan di sebuah tempat sauna dan mengeluarkan revolver yang seharian itu ia sembunyikan. Ia menembakkan revolver itu, menculik salah satu direksi, mendatangi orang-orang yang mesti didatangi untuk melengkapi dokumennya, sambil terus dikejar-kejar polisi. Secara perlahan dan dalam keadaan penuh tekanan, Sonia pun mengerti motif di balik sulitnya menembus labirin birokrasi Alta Salud: bahwa perusahaan menugaskan karyawannya untuk mencari celah guna menolak perawatan-perawatan yang berbiaya mahal, dan karyawan yang berhasil menolak banyak klaim akan mendapat imbalan berupa kenaikan gaji, promosi jabatan, maupun paket liburan. Petualangan Sonia berakhir pada dini hari di sebuah rumah milik pemegang saham Alta Salud, terkepung polisi, dengan punggung yang tertembus peluru dan kabar bahwa suaminya sudah meninggal.

Di dalam novel, berkali-kali ditegaskan bahwa Sonia melakukan aksinya tanpa ada rencana. Tidak pernah ada rencana. Bahkan Dario menutup novel dengan melontarkan pengakuan bernada olok-olok: “Saya rasa kami bukan penjahat, karena jika memang iya, pastilah kami dua penjahat paling menyedihkan dan paling tolol sepanjang sejarah.” Nyaris semua tokoh memandang Sonia sebagai perempuan baik-baik—kecuali direksi yang pahanya ia tembak. Semua yang ia lakukan adalah akibat dari perlakuan Alta Salud, yang karenanya Sonia mesti menelan kekecewaan berkali-kali hanya untuk mengajukan klaim—entah sebab dokumen yang dibawanya kurang atau salah, entah yang hendak ditemuinya tak ada di tempat, ia bahkan dituduh mengada-ngada tentang penyakit suaminya. Ia tidak pernah mendapatkan apa yang pernah mereka janjikan kepadanya, dan hal itu membuat emosinya meledak melewati batas. Dalam pandangannya, Alta Salud merupakan monster berkepala seribu yang memusnahkan orang-orang dan melahap harta benda mereka tanpa rasa belas kasihan. Betapa monster itu mampu menunjukkan sisi beringas seseorang yang bahkan tak pernah dibayangkan akan terlibat dalam suatu adegan pembunuhan seekor semut. Membaca novel ini, kita akan tersadar bahwa Alta Salud adalah gambaran sebuah institusi secara umum dan birokrasi rumit di baliknya—khas negara kita—di mana setiap usaha untuk menembusnya selalu diperumit, di mana setiap orang yang hendak menaklukannya justru diping-pong ke sana-kemari hingga nyaris gila; sebuah institusi yang hanya berisi orang-orang rakus dan egois dan tidak pernah peduli terhadap orang lain.
 

Catatan: Monster Kepala Seribu diterjemahkan dari bahasa Spanyol oleh Ratna Dyah Wulandari, berjudul asli Un monstruo de mil cabezas, diterbitkan oleh Marjin Kiri.

Penulisan Kreatif

Oleh Etgar Keret


Cerita pertama yang ditulis Maya berkisah tentang sebuah dunia di mana orang-orang dapat membelah dirinya menjadi dua alih-alih bereproduksi. Di dalam dunia tersebut, setiap saat orang bisa menggandakan diri menjadi dua, dan belahan mereka masing-masing berumur separuh dari diri mereka yang sebelumnya. Beberapa orang memilih melakukannya ketika mereka muda; misalnya, seseorang berumur delapan belas tahun membelah diri menjadi dua bocah berumur sembilan tahun. Yang lain akan menunggu sampai mereka telah memantapkan diri secara profesional dan secara finansial dan melakukan hal itu hanya ketika mereka sudah memasuki usia pertengahan. Tokoh utama wanita Maya tidak membelah diri. Dia telah mencapai usia delapan puluh tahun dan, walaupun mendapat tekanan sosial terus menerus, tetap bersikeras untuk tidak membelah diri. Di akhir cerita, dia mati.

            Itu cerita yang bagus, kecuali di bagian akhir. Ada suatu kemuraman di bagian tersebut, pikir Aviad. Muram dan tertebak. Namun Maya, di kelas menulis yang dia ikuti, sebenarnya mendapat banyak pujian untuk bagian akhir itu. Si pengajar, yang kiranya merupakan seorang penulis terkenal, meskipun Aviad tak pernah mendengar namanya, bicara kepada wanita itu bahwa ada semacam tusukan oleh kebanalan penutup cerita itu, atau semacam kekacauan. Aviad melihat betapa pujian itu membuat Maya bahagia. Dia begitu senang ketika menceritakan hal itu kepadanya. Dia mengutip apa yang dikatakan si penulis terkenal kepadanya sebagaimana orang-orang mengutip selarik ayat dari Injil. Dan Aviad, yang mula-mula mencoba menyarankan akhir cerita yang berbeda, mengubah pikirannya dan berkata bahwa itu semua hanya soal selera dan bahwa ia tidak begitu mengerti tentang hal itu.

            Ibunyalah yang menyarankan agar dia mengikuti kelas menulis kreatif. Ibunya bilang bahwa salah seorang anak gadis temannya telah mengikutinya sekali dan sangat menyukainya. Aviad juga berpikir bahwa sebaiknya Maya lebih sering ke luar rumah dan melakukan sesuatu yang dia suka. Lelaki itu selalu dapat menyibukkan dirinya sendiri dengan pekerjaan, namun, semenjak keguguran, perempuan itu tak pernah meninggalkan rumah. Setiap kali ia masuk rumah, ia menemukan perempuan itu di ruang tamu, duduk tegak di atas bangku. Tidak membaca, tidak menonton teve, bahkan tidak menangis. Ketika Maya mempertimbangkan kursus tersebut, Aviad tahu bagaimana cara meyakinkannya. “Pergilah, coba ikuti sekali,” katanya, “kau akan merasa seperti seorang anak yang pergi berkemah.” Kemudian, ia sadar bahwa apa yang ia katakan tentang perumpamaan anak itu adalah hal yang sensitif, setelah apa yang mereka alami dua bulan sebelumnya. Namun Maya justru tersenyum dan berkata bahwa mungkin benar yang dia butuhkan sekarang adalah pergi berkemah.

            Cerita kedua yang ditulisnya adalah tentang sebuah dunia di mana di dalamnya kau hanya bisa melihat orang yang kau cintai. Si protagonis adalah seorang pria yang sudah menikah dan sangat mencintai istrinya. Suatu hari, istrinya berjalan tepat ke arahnya di lorong rumah dan gelas yang dia pegang terjatuh dan pecah di lantai. Beberapa hari kemudian, dia duduk di atas suaminya ketika ia sedang tertidur di kursi. Beberapa kali, dia menggeliat-geliat sebelum duduk di atasnya sambil permisi; ada sesuatu yang dipikirkannya; dia sama sekali tidak melihat ketika dia duduk. Namun sang suami mulai curiga bahwa dia tidak lagi mencintainya. Untuk menguji teorinya, ia memutuskan untuk melakukan langkah tegas: ia mencukur bagian kiri kumisnya. Ia pulang dengan memamerkan kumis yang hanya sebelah, menggenggam seikat bunga berbentuk bintang. Istrinya berterimakasih untuk bunganya dan tersenyum. Ia dapat merasakan wanita itu meraba-raba udara ketika dia mencoba untuk memberi ciuman kepada suaminya. Maya memberi judul ceritanya “Kumis Sebelah,” dan berkata pada Aviad bahwa ketika dia membacanya keras-keras di kursus, beberapa orang menangis. Aviad berkata, “Wow,” dan menciumnya di kening. Malam itu, mereka bertengkar karena hal kecil yang konyol. Wanita itu lupa menyampaikan pesan atau sesuatu semacam itu, dan suaminya berteriak ke arahnya. Ia membentak-bentak, dan pada akhirnya meminta maaf. “Seharian penuh aku bekerja,” katanya dan menyentak kaki wanita itu, mencoba mengeluarkan amarah yang penghabisan. “Apa kau memaafkanku?” Dia memaafkannya.

            Pengajar kursus itu telah menerbitkan sebuah novel dan sebuah kumpulan cerita. Dua-duanya gagal sukses, namun mendapat beberapa ulasan yang bagus. Setidaknya, itulah yang dikatakan wanita penjaga toko buku di dekat kantor Aviad kepadanya. Novelnya sangat tebal, enam ratus dua puluh empat halaman. Aviad membeli buku kumpulan ceritanya. Ia menyimpannya di laci meja kerjanya dan mencoba membaca sedikit ketika rehat makan siang. Setiap cerita di buku kumpulan itu berlatar di banyak negara asing. Itu semacam cerita gimik. Tulisan di sampul belakang mengatakan bahwa si penulis pernah bekerja selama bertahun-tahun sebagai pemandu wisata di Kuba dan Afrika dan bahwa perjalanannya telah mempengaruhi gaya kepenulisannya. Ada juga foto hitam-putih kecil si penulis. Di dalamnya, ia melontarkan senyum sombong seseorang yang bangga akan pencapaiannya sendiri. Si penulis telah berkata pada Maya, tuturnya pada Aviad, bahwa ketika kursus berakhir ia telah mengirim cerita wanita itu ke editornya. Dan, meskipun dia tidak terlalu berharap, beberapa penerbit sedang mencari talenta muda.

            Cerita ketiganya diawali dengan kekonyolan. Berkisah tentang seorang wanita yang melahirkan seekor kucing. Si tokoh utama merupakan suami si wanita, yang curiga bahwa kucing itu bukanlah anaknya. Seekor kucing jantan gemuk yang ganas yang selalu tidur di atas penutup tempat sampah yang berada tepat di bawah jendela kamar tidur pasangan itu melemparkan pandangan menghina pada si suami setiap kali ia turun untuk membuang sampah. Akhirnya, terjadi pergulatan antara si suami dengan si kucing. Si suami melempar sebongkah batu ke arah si kucing, yang membalas dengan gigitan dan cakaran. Suami yang terluka itu, bersama istri dan anak kucing yang sedang disusui, pergi ke klinik untuk menyuntikkan anti rabies ke tubuhnya. Ia merasa malu dan sangat kesakitan namun mencoba untuk tidak menangis selagi mereka menunggu. Si anak kucing, turut merasakan sakit, melepaskan diri dari pelukan sang ibu, mendekati lelaki itu, dan menjilati wajahnya dengan lembut, memberi semacam hiburan. “Meow.” “Kau mendengarnya?” si ibu bertanya kegirangan. “Dia bilang ‘Ayah’.” Di titik itu, si suami tak mampu lagi menahan air matanya. Dan, ketika Aviad membaca bagian itu, ia juga harus menahan air matanya agar tidak ikut menetes. Maya bilang dia mulai menulis cerita itu bahkan sebelum dia tahu bahwa dia hamil lagi. “Bukankah ini aneh,” katanya, “alam bawah sadarku bahkan mengetahuinya lebih dulu dibandingkan otakku.”

            Selasa berikutnya, ketika Aviad harusnya menjemput wanita itu setelah kelas selesai, ia muncul setengah jam lebih cepat, menempatkan mobilnya di tempat parkir, dan masuk untuk menemuinya. Maya terkejut ketika melihatnya masuk kelas, dan ia mendesaknya untuk memperkenalkan dirinya dengan si penulis. Si penulis diselimuti bau losion tubuh. Ia menjabat tangan Aviad dengan licinnya dan berkata padanya bahwa jika Maya telah memilihnya untuk menjadi pendamping hidup, ia pasti merupakan orang yang sangat spesial.

            Tiga minggu kemudian, Aviad mendaftar kelas menulis untuk pemula. Ia tidak mengatakan apapun tentang hal itu kepada Maya, dan, supaya aman, ia berkata kepada sekretarisnya agar jika ada telepon dari rumah dia harus bilang bahwa ia sedang ada pertemuan penting dan tidak dapat diganggu. Anggota lain kelas tersebut kebanyakan wanita yang lebih tua, yang memberi pandangan hina kepadanya. Si pengajar muda bertubuh kecil itu memakai sebuah syal, dan para wanita di kelas membicarakan si pengajar, berkata bahwa dia hidup di perkampungan padat yang sibuk dan menderita kanker. Dia meminta semuanya untuk berlatih dengan menulis otomatis. “Tulis apa saja yang ada di pikiran kalian,” katanya. “Jangan pikirkan, tulis saja.” Aviad mencoba berhenti berpikir. Itu sangat sulit. Seorang wanita yang lebih tua di dekatnya menulis dengan gelagapan, seperti seorang murid yang mengerjakan ujiannya dengan terburu-buru sebelum sang guru meminta mereka untuk meletakkan pensil, dan setelah beberapa menit ia pun mulai menulis.

            Cerita yang ia tulis adalah tentang seekor ikan yang berenang dengan girang di luasnya lautan ketika seorang penyihir jahat akhirnya mengubahnya menjadi seorang pria. Si ikan tidak terima dengan perubahan itu dan memutuskan untuk mengejar si penyihir jahat dan memintanya untuk mengembalikan dirinya menjadi seekor ikan. Karena dulunya ia adalah ikan yang gesit dan pemberani, dalam pengejaran itu ia memutuskan untuk menikah, dan bahkan mendirikan sebuah perusahaan kecil yang mengimpor produk plastik dari Asia Timur. Dengan bantuan pengetahuannya yang sangat luas buah dari pengembaraannya di tujuh samudra selama menjadi ikan, perusahaan itu semakin maju dan bahkan semakin dikenal umum. Sementara itu, si penyihir jahat, yang sedikit kelelahan setelah melakukan kejahatan selama bertahun-tahun, memutuskan untuk menemukan seluruh makhluk yang telah dia sihir, meminta maaf kepada mereka, dan mengembalikan mereka menjadi bentuk semula. Di satu titik, dia bahkan pergi menemui si ikan yang telah dia ubah menjadi seorang lelaki. Sekretaris si ikan memintanya untuk menunggu sampai si ikan selesai melakukan rapat satelit dengan rekan-rekan kerjanya di Taiwan. Di bagian ini dalam hidup si ikan, ia bahkan kesulitan untuk mengingat fakta bahwa dirinya sebetulnya seekor ikan, dan perusahaannya sekarang mengontrol separuh dunia. Si penyihir menunggu beberapa jam, namun ketika dia melihat bahwa pertemuan itu tak akan berakhir dalam waktu dekat, dia naik sapunya dan terbang pergi. Si ikan terus melanjutkan hidupnya dengan semakin baik, sampai suatu hari, ketika sudah benar-benar tua, ia menatap ke luar jendela salah satu dari lusinan gedung-gedung tepian pantai yang dibelinya dalam sebuah kesepakatan dengan penjual real-estate, dan melihat laut. Dan tiba-tiba ia teringat bahwa dirinya seekor ikan. Seekor ikan yang sangat kaya yang mengontrol banyak sekali anak perusahaan yang mengatur saham pasar di seluruh dunia, namun tetap saja dirinya seekor ikan. Seekor ikan yang, bertahun-tahun lamanya, tidak merasakan asinnya garam lautan.

            Ketika si pengajar melihat bahwa Aviad telah meletakkan bolpennya, dia menunjukkan pandangan bertanya. “Aku tidak mempunyai akhir,” ia berbisik penuh rasa maaf, menjaga suaranya pelan supaya tidak mengganggu si wanita tua yang masih terus menulis.


(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “Creative Writing” karya Etgar Keret, dimuat di New Yorker. Diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Inggris oleh Sondra Silverston.)

Legenda

 Oleh Jorge Luis Borges


Cain dan Abel bertemu setelah Abel meninggal. Mereka sedang berjalan melintasi gurun, dan melihat satu sama lain dari kejauhan, sebab keduanya sama-sama tinggi. Dua bersaudara itu duduk di atas tanah, menyalakan api, dan makan. Mereka duduk dengan tenang, seperti orang-orang yang keletihan ketika malam datang. Di langit, sebuah bintang berkedip-kedip, bintang yang belum diberi nama. Dalam siraman cahaya api, Cain melihat di bagian atas kepala Abel terdapat bekas hantaman batu, dan dia menjatuhkan roti yang akan dimasukkannya ke dalam mulut dan meminta maaf kepada saudara lelakinya itu.

            “Apakah kau yang membunuhku, atau aku yang membunuhmu?” tanya Abel kemudian. “Aku tidak ingat lagi; kita di sini sekarang, bersama, seperti sebelumnya.”

            “Kini aku tahu bahwa kau telah benar-benar memaafkanku,” kata Cain, “sebab melupakan berarti memaafkan. Aku pun akan berusaha melupakan.”

            “Ya,” kata Abel pelan. “Selama masih ada penyesalan, masih ada pula rasa bersalah.”



*Cain dan Abel merupakan “versi Barat” dari Qabil dan Habil, putra Nabi Adam.

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “Legend”, Brodie’s Report, Including the Prose Fictions from In Praise of Darkness (2000, Penguin Classics) karya Jorge Luis Borges. Diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke dalam bahasa Inggris oleh Andrew Hurley.)

Matinya Seorang Pegawai

Oleh Anton Chekov


Malam yang indah ketika seorang pegawai yang baik, Ivan Dmitrich Chervyakov, duduk di baris kedua sebuah gedung pertunjukan, menikmati Les Cloches de Corneville dengan bantuan kaca mata opera. Ia menonton pementasan dan berpikir bahwa dirinya merupakan manusia paling bahagia di dunia, ketika tiba-tiba—“tiba-tiba” sudah menjadi ungkapan yang basi, tapi bagaimana bisa penulis tidak menggunakannya, jika memang hidup ini dipenuhi kejutan?—tiba-tiba, wajahnya mengkerut, kedua matanya berputar ke atas, napasnya berhenti… ia lemparkan kacamata opera jauh-jauh dari mukanya, tubuhnya terperanjat dua kali di atas kursi—haaasshyuuu! Begitulah cara mengatakan ia bersin. Sekarang semua orang punya hak untuk bersin di semua tempat. Petani, inspektur polisi, bahkan anggota dewan pun bersin. Semua orang bersin—semuanya. Chervyakov tidak merasa malu, mengelap hidungnya dengan sapu tangan, dan, sebagaimana seorang yang berpendidikan, melihat sekelilingnya untuk mencari tahu apakah bersinnya telah mengganggu orang-orang. Kemudian ia merasa malu. Sebab ia melihat seorang lelaki tua bertubuh kecil duduk di baris pertama, tepat di depannya, pelan-pelan mengelap kepala botaknya hingga leher menggunakan sarung tangan, menggerutukan entah apa beberapa saat. Chervyakov menyadari bahwa orang tua itu adalah Jenderal Sipil Brizhalov dari Kementrian Komunikasi.

            “Aku bersin di belakangnya!” pikir Chervyakov.

            “Dia bukan atasanku, memang, tapi tetap saja ini memalukan. Aku harus meminta maaf.”

            Chervyakov mendekatkan tubuhnya ke depan sambil batuk kecil, dan berbisik ke telinga sang Jenderal: “Saya mohon maaf, Tuan, saya bersin… saya tidak sengaja…”

            “Berhenti bicara!”

            “Maafkan saya. Saya… itu tidak sengaja!”

            “Demi Tuhan, bisakah kau diam! Aku sedang mendengarkan!”

            Chervyakov, sedikit kebingungan, tersenyum malu-malu dan mencoba untuk mengalihkan perhatian ke pertunjukan. Ia menatap aktor-aktor, tapi tak lagi merasa menjadi manusia paling bahagia di dunia. Ia menelan penyesalan yang dalam. Berjalan menuju Brizhalov saat jeda berlangsung, ia mematung sejenak dan akhirnya, menaklukan rasa malunya, berkata:

            “Saya bersin ke arah Anda, Tuan… Maafkan saya… Anda tahu… saya tidak bermaksud…”

            “Oh, sungguh… aku sudah melupakannya, bisakah kau menyingkir?” kata Jenderal, bibir bawahnya kejang-kejang tak sabar.

            “Katanya ia sudah melupakannya, tapi aku tidak melihat hal itu di matanya,” pikir Chervyakov, menatap tak percaya ke arah Jenderal. “Ia tidak mau berbicara denganku. Harus aku jelaskan bahwa aku tidak sengaja… itulah hukum alam, di sisi lain barangkali ia pikir aku sengaja meludah ke arahnya. Bahkan jika ia tidak berpikir seperti itu sekarang, kelak ia pasti akan kepikiran! …”

            Ketika sudah pulang, Chervyakov menceritakan kepada istrinya tentang tingkahnya yang tidak sopan. Tampak baginya bahwa sang istri, setelah mendengarkan ceritanya, menganggap hal itu sangatlah tidak pantas. Benar saja, istrinya sempat gelisah beberapa saat, namun mendapati bahwa Brizhalov bukanlah atasan “mereka”, hatinya menjadi tenang.

            “Aku pikir kau harus tetap pergi dan meminta maaf,” kata istrinya. “Atau ia akan berpikir bahwa kau tidak tahu cara menjaga sopan santun di tempat kerja.”

            “Itu dia! Aku sudah mencoba minta maaf, tapi ia malah bersikap aneh. Tidak mengatakan hal yang masuk akal. Lagipula, tidak ada cukup waktu untuk berbicara.”

            Hari berikutnya Chervyakov memakai jas pegawai negeri barunya, telah mencukur rambutnya, dan pergi untuk menjelaskan kelakuannya kepada Brizhalov. Ruang tunggu di kantor sang Jenderal dipenuhi para pemohon, dan Jenderal sendiri berada di sana, menerima banyak surat permohonan. Setelah mewawancarai beberapa dari mereka, sang Jenderal mengangkat matanya pada wajah Chervyakov.

            “Tadi malam, di The Arcadia, kalaupun Anda ingat, Tuan,” si pegawai memulai, “saya—emm—bersin, dan—emm—jadi… saya mohon…”

            “Heh, apa maksudmu!” kata Jenderal. “Apa yang bisa saya bantu?” katanya pada orang berikutnya.

            “Ia tidak mau mendengarkanku!” pikir Chervyakov, pucat pasi. “Ini artinya ia marah… aku tidak bisa membiarkannya… aku harus menjelaskan kepadanya…”

            Ketika sang Jenderal, setelah mengurusi pemohon terakhir, beranjak menuju ke apartemen pribadinya, Chervyakov mengejarnya, berkata:

            “Permisi, Tuan Yang Terhormat! Tidak ada hal selain penyesalan sepenuh hati yang memberanikan saya untuk mengganggu Tuan…”

            Sang Jenderal melihat seakan-akan ia hampir menangis, dan menyuruhnya untuk pergi.

            “Kau menertawakanku, ya, Tuan!” katanya, membanting pintu tepat di depan muka si pegawai.

            “Tertawa?” pikir Chervyakov. “Aku tidak melihat ada yang lucu. Tidakkah ia mengerti, sang Jenderal itu? Baiklah, aku tidak akan menyusahkan seorang yang terhormat lagi dengan permintaan maafku. Terkutuklah dia! Aku akan mengiriminya surat, aku tidak akan menemuinya lagi! Tidak akan!”

            Banyak yang dipikirkan Chervyakov ketika ia berjalan pulang. Tapi ia tidak menulis surat itu. Ia berpikir dan berpikir namun tidak dapat menemukan bagaimana cara menuliskannya. Jadi ia berpikir untuk kembali lagi ke tempat si Jenderal esok hari untuk meluruskan hal.

            “Saya telah mengganggu Anda kemarin, Tuan,” katanya memulai ketika sang Jenderal melemparkan pandangan bertanya-tanya ke arahnya, “tidak bermaksud menertawakan Anda, sebagaimana yang Anda katakan. Saya datang untuk meminta maaf karena telah menyusahkan Anda sebab saya bersin…. Sementara untuk menertawakan Anda, saya bahkan tidak pernah terpikirkan hal tersebut. Saya tidak akan berani melakukannya. Jika kita menertawakan orang lain, betapa kita tidak punya rasa hormat… tidak ada rasa hormat untuk yang sombong…”

            “Keluar dari sini!” salak sang Jenderal, pucat dan bergetar karena marah.

            “Saya memohon ampunan Anda,” bisik Chervyakov, mati rasa ketakutan.

            “Keluar!” sang Jenderal mengulang, menghentakan kaki.

            Chervyakov merasa seakan sesuatu di dalam dirinya tiba-tiba hancur. Ia tidak mendengar atau melihat apapun lagi selama ia berbalik pergi dan keluar dari ruangan, berjalan menuju ke jalanan dan berkeliling. Ia tanpa sadar tersandung ke rumah, berbaring di atas sofa, tepat seperti kemarin, dalam pakaian jas pegawai negerinya, dan meninggal.

 

1883

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “Death of A Clerk” karya Anton Chekov, 5 Russian Masters: Short Stories by Chekov, Tolstoy, Gorky, Dostoyevsky, Turgenev (2003, Jaico Publishing House, India). Tidak ada catatan mengenai penerjemah dari bahasa Rusia ke dalam bahasa Inggris.)

Etnograf

Oleh Jorge Luis Borges

 

Aku pernah mendengar sebuah kisah ketika di Texas, namun kisah itu terjadi di negara bagian lain. Kisah itu memiliki seorang protagonis (meski sesungguhnya di dalam setiap cerita terdapat ribuan protagonis, tampak maupun tak tampak, hidup ataupun mati). Namanya, aku yakin, adalah Fred Murdock. Tubuhnya tinggi, sebagaimana lazimnya orang Amerika; warna rambutnya tidak pirang, juga tidak hitam; roman mukanya tajam dan ia jarang berbicara. Tidak ada suatu hal ganjil pun yang melekat padanya, bahkan tidak pula keganjilan palsu yang biasa ditunjukan anak muda. Ia memiliki sikap sopan yang alami, dan ia percaya kepada buku-buku maupun orang-orang yang menulisnya. Ia seumuran itu ketika ia belum dikenal seorang pun, dan telah bersiap untuk mengambil kesempatan apapun yang terbentang di jalannya—mistisisme Persia ataupun asal-usul orang Hungaria yang belum diketahui, aljabar ataupun risiko perang, Puritanisme ataupun pesta seks. Di universitas, seorang penasihat telah membuatnya tertarik akan bahasa Indian-Amerika. Beberapa upacara adat yang semakin langka masih ada yang bertahan di satu-dua rumpun suku di luar daerah Barat; salah seorang profesor, seorang yang lebih tua, menyarankan agar ia seharusnya pergi meneliti, hidup bersama mereka, mengamati upacara adat tersebut, dan menguak rahasia yang diungkapkan dukun-dukun itu kepada para calon anggota suku. Ketika kembali nanti, ia bakal memiliki desertasi, dan universitas akan tertarik untuk menerbitkannya.

Murdock menyanggupi saran itu. Salah seorang leluhurnya pernah gugur di perang perbatasan; konflik silam yang menyeret rasnya itu kini bertautan. Ia harusnya bisa meramalkan betapa banyak halangan yang akan menghalangi jalannya; ia harus bisa meyakinkan anggota suku tersebut agar ia bisa diterima menjadi bagian dari mereka. Ia menjalani petualangan panjang. Ia hidup lebih dari dua tahun di sebuah padang tandus, terkadang ia tidur di dalam bangunan bertembok batu bata dan sesekali terlelap di ruang terbuka. Ia bangun sebelum fajar, dan tidur tepat ketika senja, dan masuk ke alam mimpi di mana bahasa yang digunakan di dalamnya bukanlah bahasa ibunya. Ia mengisi piringnya dengan makanan-makanan kasar, dan menutupi tubuhnya dengan pakaian asing, ia melupakan kawan-kawannya dan kota asalnya, ia mulai berpikir dengan cara yang ditolak oleh logika pikirannya. Selama bulan-bulan pertama menjalani pelajaran hidup ini diam-diam ia mencatat; kemudian, ia merobek catatan itu—barangkali untuk menghindari kecurigaan yang tertumpuk pada dirinya, barangkali karena ia tak lagi membutuhkannya. Setelah beberapa lama (tabah akan praktek-praktek tertentu, baik spiritual maupun fisik, yang tingkatnya semakin naik), tetua suku meminta Murdock untuk mulai mengingat mimpi-mimpinya, dan menceritakannya pada mereka setiap pagi di saat fajar. Si lelaki muda mendapati bahwa di malam-malam bulan purnama ia memimpikan banteng. Ia melaporkan mimpinya yang terus berulang ini kepada gurunya; sang guru akhirnya mengatakan padanya ajaran rahasia suku tersebut. Suatu pagi, tanpa mengatakan apapun kepada seorang pun, Murdock pergi.

Di kota, ia merasa rindu pada malam-malam awalnya di padang gersang itu ketika ia merindukan suasana kota, dahulu kala. Ia akhirnya masuk ke kantor profesornya dan berkata bahwa ia sudah mengetahui rahasia itu, namun memutuskan untuk tidak mengatakannya.

“Apa kau terikat dengan sumpahmu?” tanya si profesor.

“Bukan itu alasannya,” jawab Murdock. “Aku mempelajari sesuatu di luar sana yang tidak dapat kuungkapkan.”

“Bahasa Inggris mungkin tak cukup mumpuni untuk bisa menyatakannya,” kata profesor.

“Bukannya begitu, Pak. Sekarang, ketika aku sudah mengetahui rahasianya, aku bisa mengatakan rahasia itu dengan ratusan cara dan bahkan melalui cara-cara yang kontradiktif. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakan ini, tapi rahasia itu sangatlah indah, dan ilmu pengetahuan, ilmu pengetahuan kita, kini bagiku terlihat begitu kacau.”

Setelah sebuah jeda ia menambahkan:

“Dan, ngomong-ngomong, rahasia itu tidak sepenting jalan yang membawaku kepadanya. Setiap orang harus melalui jalannya sendiri-sendiri.”

Sang profesor berkata dingin:

“Akan kukatakan kepada komite tentang keputusanmu. Apa kau berencana untuk hidup di antara orang-orang Indian itu?”

“Tidak,” jawab Murdock. “Aku bahkan mungkin tak akan kembali ke padang gersang itu. Apa yang diajarkan orang-orang itu padaku bisa berguna di segala keadaan dan di segala tempat.”

Itulah pokok percakapan mereka.

Fred menikah, bercerai, dan kini menjadi salah satu pustakawan di Yale.
(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “The Ethnographer”, Brodie’s Report, Including the Prose Fictions from In Praise of Darkness (2000, Penguin Classics) karya Jorge Luis Borges. Diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke dalam bahasa Inggris oleh Andrew Hurley.)

Cakram

Oleh Jorge Luis Borges

Aku seorang pencari kayu. Namaku tidaklah penting. Gubuk tempatku lahir, dan tempat aku mati kelak, berdiri di tepi hutan. Kata mereka hutan ini tumbuh dan terus tumbuh, menuju ke laut yang mengelilingi seluruh dunia; kata mereka gubuk kayu seperti punyaku akan berlayar di lautan itu. Aku tidak tahu; aku tidak pernah melihatnya.

            Aku belum pernah melihat sisi lain hutan. Abangku, ketika kami masih bocah, memintaku berjanji bahwa kami tidak akan berhenti menggergaji kayu hingga pohon terakhir di hutan tumbang. Ia sudah meninggal sekarang, dan kini segala hal berubah, dan akan terus berubah. Di arah matahari tenggelam ada sebuah sungai kecil tempat aku memancing dengan tangan kosong. Ada gerombolan serigala di hutan, namun aku tidak takut serigala, dan kapakku tak pernah mengecewakanku. Aku tidak pernah menghitung berapa umurku, tapi aku tahu aku sudah tua—mataku tak lagi bisa melihat. Di desa sana, yang tak pernah kukunjungi lagi sebab aku sudah lupa jalannya, semua orang bilang aku orang yang kikir, namun berapa banyak yang bisa diambil oleh satu orang pencari kayu?

            Aku selalu menutup pintuku dengan mengganjalnya menggunakan batu sehingga salju tak akan menyusup masuk. Suatu malam aku mendengar langkah kaki yang berat diikuti ketukan. Aku membuka pintu dan seorang yang asing masuk. Ia seorang lelaki tua yang tinggi, tubuhnya dibungkus selimut tua compang-camping. Segurat bekas luka melintang di wajahnya. Hidup tampaknya telah memberinya wibawa alih-alih kelemahan, meski aku lihat ia kesulitan berjalan tanpa bertumpu pada tongkatnya. Kami bertukar kata beberapa lama yang aku sudah lupa. Lalu akhirnya orang itu berkata:

            “Aku tidak punya rumah, dan aku tidur di mana saja yang bisa kutempati. Aku telah berkelana ke seluruh pelosok Saxony.” Ucapannya sesuai dengan usianya. Ayahku selalu membicarakan “Saxony”; kini orang memanggilnya Inggris Raya.

            Waktu itu ada roti dan beberapa ekor ikan di rumah. Ketika kami makan, kami tidak saling bicara. Hujan mulai turun. Aku mengambil beberapa helai kulit dan membuatkannya sebuah tempat tidur di atas lantai kotor tempat kakakku meregang nyawa. Ketika malam melarut kami tidur.

            Kami meninggalkan rumah sebelum fajar. Hujan telah berhenti dan tanah diselimuti salju baru. Lelaki itu menjatuhkan tongkatnya dan memintaku untuk mengangkatnya.

            “Kenapa aku harus melakukan perintahmu?” kataku padanya.

            “Sebab aku seorang raja,” katanya.

            Kupikir ia gila. Aku mengambil tongkat itu dan memberikan padanya.

            Berikutnya, ketika berkata-kata, suaranya tak lagi sama.

            “Aku adalah raja Secgens. Berkali-kali aku memimpin pasukanku untuk memenangkan pertarungan besar, namun ketika takdir akhirnya berkehendak lain, aku kehilangan kerajaanku. Namaku Isern dan aku keturunan Odin.”

            “Aku tidak menyembah Odin,” jawabku. “Aku menyembah Kristus.”

            Ia terus berjalan seakan ia tak mendengarkanku.

            “Aku menjalani masa buangan, namun aku tetap seorang raja, sebab aku punya cakram itu. Kau ingin melihatnya?” Ia membuka tangannya dan menunjukan padaku telapak tangannya yang kurus. Tak ada apapun di sana. Tangannya kosong. Hingga akhirnya aku menyadari benda itu sedang dipegangnya erat-erat.

            Ia menatap mataku.

            “Kau boleh menyentuhnya.”

            Aku sempat ragu, namun aku menjulurkan tanganku dan dengan ujung jari aku menyentuh telapak tangannya. Aku merasakan sesuatu yang dingin, dan aku melihat seberkas pantulan cahaya. Dengan cepat ia menutup tangannya. Aku diam.

            “Ini adalah cakram Odin,” kata si lelaki tua dengan suara pelan, seakan ia sedang berbicara dengan seorang anak kecil. “Benda ini hanya memiliki satu sisi. Tidak ada benda lain di bumi ini yang hanya memiliki satu sisi. Sepanjang aku masih memegang benda ini di tanganku aku masihlah seorang raja.”

            “Apa itu emas?” kataku.

            “Kurasa tidak. Ini adalah cakram Odin dan hanya memiliki satu sisi.”

            Kemudian pikiranku tergerogoti gagasan untuk memiliki cakram itu. Jika itu milikku, aku bisa menjualnya untuk sebatang emas dan kemudian menjadi raja.

            “Di gubukku aku punya satu peti penuh uang yang telah disembunyikan. Koin-koin emas, dan mereka mengkilat seperti kapakku,” kataku kepada si pengelana, yang hingga kini masih kubenci. “Jika kau mau memberi cakram Odin itu padaku, akan kuberikan peti itu.”

            “Aku tidak mau,” tolaknya keras.

            “Kalau begitu silakan melanjutkan perjalananmu,” kataku.

            Ia berbalik pergi. Satu ayunan kapak yang mengenai bagian belakang kepalanya menyudahi semua; tubuhnya goyah dan terjatuh, namun ketika jatuh ia membuka tangannya, dan aku melihat kilauan cahaya cakram itu terlempar ke udara. Aku menandai tempat itu dengan kapakku dan aku menyeret tubuh tersebut ke tepi sungai kecil, yang kutahu kini anak sungai itu telah meluap. Di sana aku menenggelamkan tubuhnya.

            Ketika kembali ke rumah aku mencari cakram itu. Namun aku tidak menemukannya. Aku telah mencarinya selama bertahun-tahun.

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “The Disc”, Collected Fictions (1998, Penguin Viking) karya Jorge Luis Borges. Diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke dalam bahasa Inggris oleh Andrew Hurley.)

 

Sepuluh Indian

Oleh Ernest Hemingway

Setelah suatu perayaan kemerdekaan, Nick, terlambat pulang dari kota dengan menaiki kereta wagon bersama Joe Garner dan keluarganya, melewati sembilan orang Indian mabuk di sepanjang jalan. Ia ingat ada sembilan sebab Joe Garner, berkendara dalam kegelapan, menarik tali kekang kudanya, melompat turun ke jalanan dan menyeret seorang Indian menyingkir dari jalur kereta. Si Indian tengah tertidur, wajahnya menghadap ke tanah. Joe menyeretnya menuju ke semak dan kembali naik ke kereta wagon.

            “Kini mereka ada sembilan,” kata Joe, “sepanjang jalan dari sini hingga ke pinggiran kota.”

            “Dasar orang-orang Indian itu,” kata Nyonya Garner.

            Nick duduk di kursi belakang bersama kedua bocah Garner. Ia memandang ke luar dari kursi belakang demi melihat si Indian yang telah diseret oleh Joe ke samping jalanan.

            “Apa itu Billy Tabeshaw?” tanya Carl.

            “Bukan.”

            “Celananya kelihatan keren seperti Billy.”

            “Semua Indian memakai celana yang bentuknya sama.”

            “Aku sama sekali tidak melihatnya,” kata Frank. “Ayah turun dari kereta dan sudah naik kembali sebelum aku bisa melihat apa yang terjadi. Kupikir ayah habis membunuh seekor ular.”

            “Beberapa Indian akan membunuh sejumlah ular malam ini, kukira,” kata Joe Garner.

            “Dasar orang-orang Indian itu,” kata Nyonya Garner.

            Mereka melaju. Jalanan berubah dari jalan raya utama menjadi setapak yang mendaki bukit. Kuda-kuda itu kesulitan menarik kereta dan bocah-bocah pun turun dan berjalan kaki. Jalanan itu berpasir. Nick memandang ke belakang dari puncak bukit ke arah gedung sekolah. Ia melihat cahaya lampu Petoskey dan, di seberang Little Traverse Bay, melihat cahaya lampu Harbour Springs. Mereka kembali menaiki wagon.

            “Mestinya mereka menyebarkan kerikil di bagian yang lembek itu,” kata Joe Garner. Kereta wagon melaju di atas jalan membelah pepohonan. Joe dan Nyonya Garner duduk berhimpitan di kursi depan. Nick duduk di antara kedua bocah itu. Jalanan kini membelah tanah terbuka.

            “Di sinilah Ayah dikejar-kejar sigung.”

            “Masih ke sana lagi.”

            “Tidak penting di mana itu terjadi,” kata Joe tanpa memalingkan kepalanya. “Suatu tempat sama baiknya dengan tempat manapun untuk kabur dari seekor sigung.”

            “Aku melihat dua sigung semalam,” kata Nick.

            “Di mana?”

            “Di danau. Mereka mencari bangkai ikan di sepanjang tepian.”

            “Mungkin mereka hanya rakun,” kata Carl.

            “Mereka sigung. Kukira aku tahu bagaimana rupa sigung.”

            “Mestinya kau tahu,” kata Carl. “Pacarmu kan seorang gadis Indian.”

            “Berhenti bicara seperti itu, Carl,” kata Nyonya Garner.

            “Yeah, bau tubuh mereka sama.”

            Joe Garner tertawa.

            “Berhenti tertawa, Joe,” kata Nyonya Garner. “Aku tidak akan membiarkan Carl berbicara seperti itu.”

            “Apa pacarmu seorang gadis Indian, Nickie?” tanya Joe.

            “Tidak.”

            “Iya, Ayah,” kata Frank. “Prudence Mitchell itu pacarnya.”

            “Tidak.”

            “Ia pergi untuk bertemu dengannya setiap hari.”

            “Aku tidak melakukannya.” Nick, duduk di antara kedua bocah di dalam kegelapan, merasakan kepalsuan dan kebahagiaan di dalam dirinya karena digoda mengenai Prudence Mitchell. “Dia bukan pacarku,” katanya.

            “Dengarkan ia,” kata Joe. “Aku melihat mereka berduaan setiap hari.”

            “Carl tidak bisa mendapatkan seorang gadis,” kata ibunya, “sekalipun itu seorang wanita Indian.”

            Carl diam.

            “Carl tidak pintar dalam hal perempuan,” kata Frank.

            “Diam kau.”

            “Tidak apa-apa, Carl,” kata Joe Garner. “Para perempuan tidak pernah berhasil mendapat lelaki idamannya. Lihat ayahmu ini.”

            “Ya, katakan saja semaumu,” Nyonya Garner bergerak mendekati Joe sementara keretanya terguncang-guncang. “Yah, kau memiliki banyak perempuan pada masamu.”

            “Aku bertaruh Ayah tidak pernah punya pacar seorang gadis Indian.”

            “Jangan pikirkan hal itu,” kata Joe. “Lebih baik kau berhati-hati dalam menjaga si Prudie, Nick.”

            Istrinya berbisik kepadanya dan Joe tertawa.

            “Apa yang Ayah tertawakan?” tanya Frank.

            “Jangan katakan, Garner,” istrinya memperingatkan. Joe tertawa lagi.

            “Nickie bisa saja mendapatkan Prudence,” kata Joe Garner. “Aku memiliki seorang perempuan baik.”

            “Itulah yang mesti dikatakan,” kata Nyonya Garner.

            Kuda-kuda kesulitan menarik kereta di jalanan berpasir. Joe keluar ke dalam kegelapan sambil membawa cemeti.

            “Ayolah, tarik. Kalian akan menarik yang lebih berat dari ini besok.”

            Mereka berderap menuruni bukit, keretanya berguncangan. Sampai di peternakan semua orang turun. Nyonya Garner membuka kunci pintu, masuk ke dalam, dan keluar sambil membawa lentera di tangannya. Carl dan Nick menurunkan barang-barang dari bagian belakang kereta. Frank duduk di kursi depan untuk mengendarai keretanya menuju ke dalam gudang peternakan dan mengandangkan kuda-kuda. Nick berjalan menyusuri jalan setapak dan membuka pintu dapur. Nyonya Garner sedang menyalakan api di kompor. Dia berpaling setelah menuangkan minyak tanah ke tumpukan kayu.

            “Sampai jumpa, Nyonya Garner,” kata Nick. “Terima kasih telah mengajakku.”

            “Oh, tidak masalah, Nickie.”

            “Perjalanan yang menyenangkan.”

            “Kami senang kau ikut. Apa kau tidak mau tinggal dan makan malam dulu?”

            “Sebaiknya aku pergi. Kupikir ayah pasti sudah menungguku.”

            “Sampai jumpa, kalau begitu. Maukah kau memanggilkan Carl kemari?”

            “Baiklah.”

            “Selamat malam, Nickie.”

            “Selamat malam, Nyonya Garner.”

            Nick berjalan ke pekarangan dan menuju gudang peternakan. Joe dan Frank sedang memerah susu sapi.

            “Selamat malam,” kata Nick. “Sungguh perjalanan yang hebat.”

            “Selamat malam, Nick,” panggil Joe Garner. “Apa kau tidak mau tinggal dan makan dulu?”

            “Tidak, aku tidak bisa. Apa Anda bisa menyampaikan kepada Carl ia dipanggil ibunya?”

            “Baiklah. Selamat malam, Nickie.”

            Nick berjalan tanpa alas kaki melintasi jalan setapak yang membelah padang rumput di balik gudang peternakan. Jalan setapak itu lembut dan embun terasa dingin pada kaki telanjangnya. Ia memanjat pagar di ujung padang rumput, melompat turun melewati jurang, kakinya basah menginjak lumpur, lalu mendaki tumpukan kayu kering sampai ia bisa melihat cahaya dari pondok. Ia melompati pagar dan berjalan memutar menuju beranda depan. Melalui jendela ia bisa melihat ayahnya sedang duduk menghadap meja, membaca di bawah siraman cahaya lentera besar. Nick membuka pintu dan memasuki pondok.

            “Nah, Nickie,” kata ayahnya. “apa harimu menyenangkan?”

            “Aku menghabiskan waktu yang hebat, Yah. Empat Juli yang hebat.”

            “Apa kau lapar?”

            “Pasti.”

            “Apa yang kau lakukan pada sepatumu?”

            “Aku meninggalkannya di wagon milik keluarga Garner.”

            “Ayo kita ke dapur.”

            Ayah Nick berjalan membawa lentera. Ia berhenti dan membuka penutup kotak es. Nick memasuki dapur. Ayahnya meletakan sepotong ayam dingin ke atas piring dan mengambil sekendi susu dan meletakkannya ke atas meja di hadapan Nick. Ia meletakkan lentera.

            “Kita juga masih punya pai,” katanya. “Apa itu bisa membuatmu kenyang?”

            “Ini mantap.”

            Ayahnya duduk di kursi di samping meja berlapis kain anti minyak. Ia menciptakan bayangan besar pada dinding dapur.

            “Siapa yang memenangkan permainan bola?”

            “Petoskey. Lima lawan tiga.”

            Ayahnya melihat ia makan dan memenuhi gelasnya dengan susu dari kendi. Nick menenggaknya dan mengelap mulutnya dengan serbet. Ayahnya meraih loyang pai dari atas rak. Ia memberi Nick satu potongan besar. Itu adalah pai huckleberry.

            “Apa yang Ayah lakukan hari ini?”

            “Ayah pergi memancing di pagi hari.”

            “Apa yang Ayah dapatkan?”

            “Hanya ikan perch.”

            Ayahnya duduk memandangi Nick menikmati pai.

            “Apa yang Ayah lakukan tadi sore?” tanya Nick.

            “Ayah berjalan-jalan di sekitar perkampungan Indian.”

            “Apa Ayah bertemu seseorang?”

            “Semua orang Indian pergi mabuk-mabukan di kota.”

            “Ayah tidak bertemu seorang pun sama sekali?”

            “Ayah melihat temanmu, si Prudie.”

            “Di mana dia?”

            “Dia di dalam hutan bersama Frank Washburn. Ayah berlari ke arah mereka. Mereka sedang melakukan sesuatu.”

            Ayahnya tidak memandanginya.

            “Apa yang mereka lakukan?”

            “Ayah tidak berada di sana cukup lama untuk tahu.”

            “Katakan padaku apa yang mereka lakukan.”

            “Ayah tidak tahu,” kata ayahnya. “Ayah hanya mendengar suara mereka di sekitar Ayah.”

            “Bagaimana Ayah tahu itu mereka?”

            “Ayah melihat mereka.”

            “Aku pikir Ayah bilang tidak melihat mereka.”

            “Oh, ya, Ayah melihat mereka.”

            “Siapa yang bersama gadis itu?” tanya Nick.

            “Frank Washburn.”

            “Apa mereka—apa mereka—”

            “Apa mereka apa?”

            “Apa mereka bahagia?”

            “Ayah kira begitu.”

            Ayahnya bangkit dari meja dan berjalan keluar melalui pintu kasa dapur. Ketika ia kembali Nick sedang menatap piringnya. Ia habis menangis.

            “Mau lagi?” Ayahnya meraih pisau untuk memotong kue pai.

            “Tidak,” kata Nick.

            “Lebih baik kau makan sepotong lagi.”

            “Tidak. Aku tidak mau lagi.”

            Ayahnya membereskan meja makan.

            “Ke mana mereka pergi di dalam hutan?” tanya Nick.

            “Kembali ke perkampungan.” Nick menatap piringnya. Ayahnya berkata, “Sebaiknya kau pergi tidur, Nick.”

            “Baiklah.”

            Nick berjalan menuju kamarnya, melepas pakaiannya, dan berbaring di atas ranjang. Ia mendengar ayahnya mondar-mandir di ruang tamu. Nick berbaring di ranjangnya dengan muka terbenam pada bantal.

            “Hatiku hancur,” pikirnya. “Kalau ini yang aku rasakan pasti hatiku telah hancur.”

            Sejenak kemudian ia mendengar ayahnya meniup api lentera dan pergi ke kamarnya sendiri. Ia mendengar angin menderu di pepohonan di luar dan merasakan hawa dinginnya masuk melalui tabir. Ia berbaring cukup lama dengan wajah terbenam pada bantal, dan sejenak kemudian ia lupa akan pikirannya mengenai Prudence dan akhirnya ia tertidur. Ketika ia terbangun pada tengah malam ia mendengar angin menderu-deru pohon cemara di luar pondok dan ombak danau mengempas-empas ke tepian, dan ia kembali tertidur. Di pagi hari angin kencang bertiup dan ombak tinggi menerjang tepian dan ia terbangun lama sekali sebelum ia teringat bahwa hatinya telah hancur.

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “Ten Indians”, The Complete Short Stories of Ernest Hemingway (1987, The Finca Vigia Edition, New York))

Loquat

Oleh: Etgar Keret

“Ayo, Henri, bicaralah pada mereka. Kau ini seorang gendarme, mereka akan mendengarkanmu.”

            Aku meletakkan cangkir kopiku yang kosong dan menggerakkan kakiku di bawah meja, mencari sandalku. “Berapa kali harus kujelaskan padamu, Nenek? Aku ini bukan gend—bukan polisi. Aku ini tentara, seorang soldat. Aku tidak punya urusan dengan mereka, jadi untuk apa mereka mesti mendengarkan apa yang hendak kukatakan?”

            “Sebab tubuhmu tinggi seperti gedung dan kau memakai seragam gendarme—”

            “Soldat, Nenek.”

            “Baiklah kau ini soldat, lalu apa bedanya? Temui mereka sambil membawa pistolmu dan katakan pada mereka jika mereka memanjat pohon loquat kita sekali lagi, kau akan melempar mereka ke dalam calabouse* dan menembak mereka, atau apalah, yang penting mereka tidak memasuki pekarangan kita lagi…”

            Mata sayu nenek kini basah, dan memerah. Dia sangat membenci bocah-bocah itu. Wanita tua itu tidak selalu berada di sana, namun bagaimanapun aku mengiyakannya dengan ogah-ogahan. Malam itu, aku mendengar mereka di pohon tersebut. Aku mengenakan celana pendek dan kaus dalam tak berlengan dan berkata pada Nenek aku akan keluar untuk menemui mereka.

            “Tidak,” katanya, menghalangi jalanku di ambang pintu, memegang seragamku yang telah disetrika. “Kau tidak akan menemui mereka dengan pakaian seperti itu. Pakai seragammu.”

            “Letakkan itu, Nenek,” kataku, mencoba melewatinya. Dengan keras kepala dia bersandar pada pintu, menyodorkan seragam ke tanganku.

            “Seragammu,” katanya tegas.

            Aku berjalan menuruni tangga depan, dengan dia yang melompat turun di belakangku. Aku merasa dipermalukan dengan berlagak seperti seorang model berpakaian tentara. Dia bahkan menyuruhku memakai lencana kesatuanku. “Henri, kau melupakan ini,” dia berbisik dengan suara seraknya dan menyodorkan Uzi**, terisi peluru dan siap tembak. Andai komandanku melihatku memegang senjata di tangan seperti ini, aku akan diskors selama dua minggu.

            Aku merebut senjata itu dari tangannya, mengeluarkan magasin, dan dengan hati-hati memasang pengamannya. Sebutir peluru terlempar jatuh dari moncong senapan ke atas rumput. “Kenapa kau memberiku senjata ini, apa kau gila? Mereka hanya anak kecil.”

            Aku kembalikan senapan itu kepadanya, namun dia menyodorkannya kembali ke tanganku. “Mereka bukan anak kecil, mereka binatang,” katanya tegas.

            “Baik, Nenek, aku akan membawa senapan ini.” Aku menerimanya sambil melenguh pasrah dan mencium pipinya. “Sekarang masuklah.”

           “Oh, gendarme kecilku,” katanya, bertepuk tangan gembira. Dipenuhi rasa puas atas kemenangan kecilnya, dia kembali ke beranda dengan melompati beberapa anak tangga.

            “Soldat,” bentakku padanya. “Demi setan, aku bukan polisi sialan.” Dan aku menuruni sisa anak tangga.

            Bocah-bocah di pohon loquat terus membuat kegaduhan dan mematahkan beberapa batang. Aku berencana melepas seragamku, menyelimutkan senapanku di dalamnya, dan menyembunyikannya di balik semak sehingga kurang lebih diriku akan terlihat normal ketika mendatangi mereka, namun pandangan nenek yang mengintip di balik tirai jendela menggagalkan rencanaku. Aku berjalan ke arah seorang bocah yang sedang memanjat pohon, meraih kausnya, dan menjatuhkannya ke tanah. “Yallah,” pekikku, “semuanya turun dari pohon. Ini properti pribadi.”

            Ada sedetik kesunyian, lalu sebuah jawaban terdengar dari seseorang di ketinggian pohon. “Oh, aku sangat takut. Seorang tentara. Kau mau membunuh kami, Tuan Tentara?” Sebutir loquat busuk menghantam kepalaku.

            Bocah yang kujatuhkan ke tanah bangkit dan menatapku dengan jijik. “Pegawai bodoh,” katanya. “Abangku anggota dari pasukan kesatuan tempur, selalu mengutuki pekerjaannya, dan kau tidak malu berkeliaran sambil memakai lencana kesatuan pengecut dari Tel Aviv itu?” Ia mengulum segumpal lendir di mulutnya dan meludahkannya ke bajuku. Aku memukul kepalanya cukup keras hingga membuatnya terjatuh.

            Bagaimana bisa berdebah kecil itu tahu soal lencana?

            “Apa kalian lihat si bangsat itu memukul Meron?” seseorang berteriak dari atas pohon.

            “Hei, homo, apa yang kau lakukan berjalan-jalan memakai seragammu pada Jumat malam?” teriak seorang lain. “Kau tidak mampu membeli Levi’s?”

            “Jika ia sangat bersemangat untuk menjadi tentara, ayo kita beri ia pemberontakan supaya ia tidak bosan,” pekik si bocah pertama, dan bocah yang memanjat pohon mulai melempari loquat. Aku mencoba memanjat dan menangkapnya, tapi itu nyaris mustahil, dengan adanya senapan dan sebagainya.

            Tiba-tiba, sebongkah batu mendarat di pundakku, dan ternyata ada satu bocah lagi di balik semak-semak. “Enyahlah,” teriaknya sambil mengacungkan jari tengah. Bajingan betul bocah-bocah itu. Sebelum aku mampu mengejarnya, bocah yang meludahiku bangkit, seluruh wajahnya berlumuran lumpur, menendang biji pelerku, dan langsung kabur. Pandanganku memerah dan kami bertubrukan setelah aku berjalan tiga langkah. Aku menarik bajunya dari belakang dan ia terjatuh. Aku langsung menghajarnya. Bocah yang melempar batu melompat ke punggungku, dan dua yang lain turun dari pohon untuk membantunya. Mereka menempel pada tubuhku seperti lintah. Salah satunya menggigit leherku. Aku mencoba mengenyahkan mereka dan kami semua terjatuh ke kubangan lumpur. Aku menghantam mereka ke kanan dan ke kiri. Tapi para bajingan cebol itu tidak mengenal rasa takut. Mereka tidak mau menyerah tak peduli betapa sering aku memukul mereka. Aku memegang dua dari mereka di setiap tanganku dan menggoncang-goncang yang ketiga di satu kakiku ketika tiba-tiba si Meron, yang tampaknya pemimpin gerombolan itu, menghantam kepalaku dengan sebongkah batu. Dunia berputar, dan aku merasakan darah mengalir di dahiku. Aku mendengar rentetan tembakan dan menyadari bahwa senapanku lenyap dari genggaman. Benda itu pasti terjatuh ketika kami bergumul di kubangan lumpur.

            “Tinggalkan cucuku sendiri, sales bêtes***.” Aku mendengar suara nenekku. “Kalau tidak aku akan menghajar kalian semua seperti gurame di dalam bak mandi.”

            Aku tidak tahu apakah itu nyata atau aku sedang bermimpi. “Awas, wanita tua itu gila.” Aku mendengar suara Meron dan merasa tangan-tangan terlepas dari tubuhku.

            “Dan pergi dari sini, sekarang,” aku mendengar nenekku menyuruh mereka, lalu suara kaki-kaki menginjak kubangan lumpur.

            “Lihat bagaimana mereka mengotori seragam gendarme-mu,” katanya, dan aku bisa merasakan tangannya menyentuh bahuku. “Dan mereka melukai kepalamu,” lanjutnya meratapi. “Ya sudah, aku akan merawatmu dan mencuci seragammu supaya terlihat seperti baru. Dan biar Tuhan yang mengurus bocah-bocah itu. Ayo pulang, Henri, di sini semakin dingin.” Aku bangkit, dan dunia terus berputar dan berputar.

            “Katakan padaku, Nek,” tanyaku, “dari mana kau belajar mengisi peluru dan menembak seperti itu?”

            “Dari film Jacques Norris. Itu pernah diputar di TV, sebelum petugas kabel sialan itu mengganti filmnya,” kenangnya dengan marah, “dan membawa kabur uangku. Besok kau akan mengenakan seragam gendarme-mu dan menuntut balas ke tempatnya juga.”

            “Nenek!” bentakku penuh amarah, dahiku seperti terbakar api neraka.

            “Maaf, Henri. Soldat,” katanya meminta maaf dan melompati beberapa anak tangga sekaligus.

***

*: Penjara

**: Sejenis senjata otomatis yang dipakai tentara Israel. Penjelasan lebih lengkap di sini.

***: Binatang kotor

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “Loquat”, The Girl on the Fridge (2008, Farrar, Straus and Giroux) karya Etgar Keret. Diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger dan Sondra Silverston)