Cakram

Oleh Jorge Luis Borges

Aku seorang pencari kayu. Namaku tidaklah penting. Gubuk tempatku lahir, dan tempat aku mati kelak, berdiri di tepi hutan. Kata mereka hutan ini tumbuh dan terus tumbuh, menuju ke laut yang mengelilingi seluruh dunia; kata mereka gubuk kayu seperti punyaku akan berlayar di lautan itu. Aku tidak tahu; aku tidak pernah melihatnya.

            Aku belum pernah melihat sisi lain hutan. Abangku, ketika kami masih bocah, memintaku berjanji bahwa kami tidak akan berhenti menggergaji kayu hingga pohon terakhir di hutan tumbang. Ia sudah meninggal sekarang, dan kini segala hal berubah, dan akan terus berubah. Di arah matahari tenggelam ada sebuah sungai kecil tempat aku memancing dengan tangan kosong. Ada gerombolan serigala di hutan, namun aku tidak takut serigala, dan kapakku tak pernah mengecewakanku. Aku tidak pernah menghitung berapa umurku, tapi aku tahu aku sudah tua—mataku tak lagi bisa melihat. Di desa sana, yang tak pernah kukunjungi lagi sebab aku sudah lupa jalannya, semua orang bilang aku orang yang kikir, namun berapa banyak yang bisa diambil oleh satu orang pencari kayu?

            Aku selalu menutup pintuku dengan mengganjalnya menggunakan batu sehingga salju tak akan menyusup masuk. Suatu malam aku mendengar langkah kaki yang berat diikuti ketukan. Aku membuka pintu dan seorang yang asing masuk. Ia seorang lelaki tua yang tinggi, tubuhnya dibungkus selimut tua compang-camping. Segurat bekas luka melintang di wajahnya. Hidup tampaknya telah memberinya wibawa alih-alih kelemahan, meski aku lihat ia kesulitan berjalan tanpa bertumpu pada tongkatnya. Kami bertukar kata beberapa lama yang aku sudah lupa. Lalu akhirnya orang itu berkata:

            “Aku tidak punya rumah, dan aku tidur di mana saja yang bisa kutempati. Aku telah berkelana ke seluruh pelosok Saxony.” Ucapannya sesuai dengan usianya. Ayahku selalu membicarakan “Saxony”; kini orang memanggilnya Inggris Raya.

            Waktu itu ada roti dan beberapa ekor ikan di rumah. Ketika kami makan, kami tidak saling bicara. Hujan mulai turun. Aku mengambil beberapa helai kulit dan membuatkannya sebuah tempat tidur di atas lantai kotor tempat kakakku meregang nyawa. Ketika malam melarut kami tidur.

            Kami meninggalkan rumah sebelum fajar. Hujan telah berhenti dan tanah diselimuti salju baru. Lelaki itu menjatuhkan tongkatnya dan memintaku untuk mengangkatnya.

            “Kenapa aku harus melakukan perintahmu?” kataku padanya.

            “Sebab aku seorang raja,” katanya.

            Kupikir ia gila. Aku mengambil tongkat itu dan memberikan padanya.

            Berikutnya, ketika berkata-kata, suaranya tak lagi sama.

            “Aku adalah raja Secgens. Berkali-kali aku memimpin pasukanku untuk memenangkan pertarungan besar, namun ketika takdir akhirnya berkehendak lain, aku kehilangan kerajaanku. Namaku Isern dan aku keturunan Odin.”

            “Aku tidak menyembah Odin,” jawabku. “Aku menyembah Kristus.”

            Ia terus berjalan seakan ia tak mendengarkanku.

            “Aku menjalani masa buangan, namun aku tetap seorang raja, sebab aku punya cakram itu. Kau ingin melihatnya?” Ia membuka tangannya dan menunjukan padaku telapak tangannya yang kurus. Tak ada apapun di sana. Tangannya kosong. Hingga akhirnya aku menyadari benda itu sedang dipegangnya erat-erat.

            Ia menatap mataku.

            “Kau boleh menyentuhnya.”

            Aku sempat ragu, namun aku menjulurkan tanganku dan dengan ujung jari aku menyentuh telapak tangannya. Aku merasakan sesuatu yang dingin, dan aku melihat seberkas pantulan cahaya. Dengan cepat ia menutup tangannya. Aku diam.

            “Ini adalah cakram Odin,” kata si lelaki tua dengan suara pelan, seakan ia sedang berbicara dengan seorang anak kecil. “Benda ini hanya memiliki satu sisi. Tidak ada benda lain di bumi ini yang hanya memiliki satu sisi. Sepanjang aku masih memegang benda ini di tanganku aku masihlah seorang raja.”

            “Apa itu emas?” kataku.

            “Kurasa tidak. Ini adalah cakram Odin dan hanya memiliki satu sisi.”

            Kemudian pikiranku tergerogoti gagasan untuk memiliki cakram itu. Jika itu milikku, aku bisa menjualnya untuk sebatang emas dan kemudian menjadi raja.

            “Di gubukku aku punya satu peti penuh uang yang telah disembunyikan. Koin-koin emas, dan mereka mengkilat seperti kapakku,” kataku kepada si pengelana, yang hingga kini masih kubenci. “Jika kau mau memberi cakram Odin itu padaku, akan kuberikan peti itu.”

            “Aku tidak mau,” tolaknya keras.

            “Kalau begitu silakan melanjutkan perjalananmu,” kataku.

            Ia berbalik pergi. Satu ayunan kapak yang mengenai bagian belakang kepalanya menyudahi semua; tubuhnya goyah dan terjatuh, namun ketika jatuh ia membuka tangannya, dan aku melihat kilauan cahaya cakram itu terlempar ke udara. Aku menandai tempat itu dengan kapakku dan aku menyeret tubuh tersebut ke tepi sungai kecil, yang kutahu kini anak sungai itu telah meluap. Di sana aku menenggelamkan tubuhnya.

            Ketika kembali ke rumah aku mencari cakram itu. Namun aku tidak menemukannya. Aku telah mencarinya selama bertahun-tahun.

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “The Disc”, Collected Fictions (1998, Penguin Viking) karya Jorge Luis Borges. Diterjemahkan dari bahasa Spanyol ke dalam bahasa Inggris oleh Andrew Hurley.)

 

Advertisements

Sepuluh Indian

Oleh Ernest Hemingway

Setelah suatu perayaan kemerdekaan, Nick, terlambat pulang dari kota dengan menaiki kereta wagon bersama Joe Garner dan keluarganya, melewati sembilan orang Indian mabuk di sepanjang jalan. Ia ingat ada sembilan sebab Joe Garner, berkendara dalam kegelapan, menarik tali kekang kudanya, melompat turun ke jalanan dan menyeret seorang Indian menyingkir dari jalur kereta. Si Indian tengah tertidur, wajahnya menghadap ke tanah. Joe menyeretnya menuju ke semak dan kembali naik ke kereta wagon.

            “Kini mereka ada sembilan,” kata Joe, “sepanjang jalan dari sini hingga ke pinggiran kota.”

            “Dasar orang-orang Indian itu,” kata Nyonya Garner.

            Nick duduk di kursi belakang bersama kedua bocah Garner. Ia memandang ke luar dari kursi belakang demi melihat si Indian yang telah diseret oleh Joe ke samping jalanan.

            “Apa itu Billy Tabeshaw?” tanya Carl.

            “Bukan.”

            “Celananya kelihatan keren seperti Billy.”

            “Semua Indian memakai celana yang bentuknya sama.”

            “Aku sama sekali tidak melihatnya,” kata Frank. “Ayah turun dari kereta dan sudah naik kembali sebelum aku bisa melihat apa yang terjadi. Kupikir ayah habis membunuh seekor ular.”

            “Beberapa Indian akan membunuh sejumlah ular malam ini, kukira,” kata Joe Garner.

            “Dasar orang-orang Indian itu,” kata Nyonya Garner.

            Mereka melaju. Jalanan berubah dari jalan raya utama menjadi setapak yang mendaki bukit. Kuda-kuda itu kesulitan menarik kereta dan bocah-bocah pun turun dan berjalan kaki. Jalanan itu berpasir. Nick memandang ke belakang dari puncak bukit ke arah gedung sekolah. Ia melihat cahaya lampu Petoskey dan, di seberang Little Traverse Bay, melihat cahaya lampu Harbour Springs. Mereka kembali menaiki wagon.

            “Mestinya mereka menyebarkan kerikil di bagian yang lembek itu,” kata Joe Garner. Kereta wagon melaju di atas jalan membelah pepohonan. Joe dan Nyonya Garner duduk berhimpitan di kursi depan. Nick duduk di antara kedua bocah itu. Jalanan kini membelah tanah terbuka.

            “Di sinilah Ayah dikejar-kejar sigung.”

            “Masih ke sana lagi.”

            “Tidak penting di mana itu terjadi,” kata Joe tanpa memalingkan kepalanya. “Suatu tempat sama baiknya dengan tempat manapun untuk kabur dari seekor sigung.”

            “Aku melihat dua sigung semalam,” kata Nick.

            “Di mana?”

            “Di danau. Mereka mencari bangkai ikan di sepanjang tepian.”

            “Mungkin mereka hanya rakun,” kata Carl.

            “Mereka sigung. Kukira aku tahu bagaimana rupa sigung.”

            “Mestinya kau tahu,” kata Carl. “Pacarmu kan seorang gadis Indian.”

            “Berhenti bicara seperti itu, Carl,” kata Nyonya Garner.

            “Yeah, bau tubuh mereka sama.”

            Joe Garner tertawa.

            “Berhenti tertawa, Joe,” kata Nyonya Garner. “Aku tidak akan membiarkan Carl berbicara seperti itu.”

            “Apa pacarmu seorang gadis Indian, Nickie?” tanya Joe.

            “Tidak.”

            “Iya, Ayah,” kata Frank. “Prudence Mitchell itu pacarnya.”

            “Tidak.”

            “Ia pergi untuk bertemu dengannya setiap hari.”

            “Aku tidak melakukannya.” Nick, duduk di antara kedua bocah di dalam kegelapan, merasakan kepalsuan dan kebahagiaan di dalam dirinya karena digoda mengenai Prudence Mitchell. “Dia bukan pacarku,” katanya.

            “Dengarkan ia,” kata Joe. “Aku melihat mereka berduaan setiap hari.”

            “Carl tidak bisa mendapatkan seorang gadis,” kata ibunya, “sekalipun itu seorang wanita Indian.”

            Carl diam.

            “Carl tidak pintar dalam hal perempuan,” kata Frank.

            “Diam kau.”

            “Tidak apa-apa, Carl,” kata Joe Garner. “Para perempuan tidak pernah berhasil mendapat lelaki idamannya. Lihat ayahmu ini.”

            “Ya, katakan saja semaumu,” Nyonya Garner bergerak mendekati Joe sementara keretanya terguncang-guncang. “Yah, kau memiliki banyak perempuan pada masamu.”

            “Aku bertaruh Ayah tidak pernah punya pacar seorang gadis Indian.”

            “Jangan pikirkan hal itu,” kata Joe. “Lebih baik kau berhati-hati dalam menjaga si Prudie, Nick.”

            Istrinya berbisik kepadanya dan Joe tertawa.

            “Apa yang Ayah tertawakan?” tanya Frank.

            “Jangan katakan, Garner,” istrinya memperingatkan. Joe tertawa lagi.

            “Nickie bisa saja mendapatkan Prudence,” kata Joe Garner. “Aku memiliki seorang perempuan baik.”

            “Itulah yang mesti dikatakan,” kata Nyonya Garner.

            Kuda-kuda kesulitan menarik kereta di jalanan berpasir. Joe keluar ke dalam kegelapan sambil membawa cemeti.

            “Ayolah, tarik. Kalian akan menarik yang lebih berat dari ini besok.”

            Mereka berderap menuruni bukit, keretanya berguncangan. Sampai di peternakan semua orang turun. Nyonya Garner membuka kunci pintu, masuk ke dalam, dan keluar sambil membawa lentera di tangannya. Carl dan Nick menurunkan barang-barang dari bagian belakang kereta. Frank duduk di kursi depan untuk mengendarai keretanya menuju ke dalam gudang peternakan dan mengandangkan kuda-kuda. Nick berjalan menyusuri jalan setapak dan membuka pintu dapur. Nyonya Garner sedang menyalakan api di kompor. Dia berpaling setelah menuangkan minyak tanah ke tumpukan kayu.

            “Sampai jumpa, Nyonya Garner,” kata Nick. “Terima kasih telah mengajakku.”

            “Oh, tidak masalah, Nickie.”

            “Perjalanan yang menyenangkan.”

            “Kami senang kau ikut. Apa kau tidak mau tinggal dan makan malam dulu?”

            “Sebaiknya aku pergi. Kupikir ayah pasti sudah menungguku.”

            “Sampai jumpa, kalau begitu. Maukah kau memanggilkan Carl kemari?”

            “Baiklah.”

            “Selamat malam, Nickie.”

            “Selamat malam, Nyonya Garner.”

            Nick berjalan ke pekarangan dan menuju gudang peternakan. Joe dan Frank sedang memerah susu sapi.

            “Selamat malam,” kata Nick. “Sungguh perjalanan yang hebat.”

            “Selamat malam, Nick,” panggil Joe Garner. “Apa kau tidak mau tinggal dan makan dulu?”

            “Tidak, aku tidak bisa. Apa Anda bisa menyampaikan kepada Carl ia dipanggil ibunya?”

            “Baiklah. Selamat malam, Nickie.”

            Nick berjalan tanpa alas kaki melintasi jalan setapak yang membelah padang rumput di balik gudang peternakan. Jalan setapak itu lembut dan embun terasa dingin pada kaki telanjangnya. Ia memanjat pagar di ujung padang rumput, melompat turun melewati jurang, kakinya basah menginjak lumpur, lalu mendaki tumpukan kayu kering sampai ia bisa melihat cahaya dari pondok. Ia melompati pagar dan berjalan memutar menuju beranda depan. Melalui jendela ia bisa melihat ayahnya sedang duduk menghadap meja, membaca di bawah siraman cahaya lentera besar. Nick membuka pintu dan memasuki pondok.

            “Nah, Nickie,” kata ayahnya. “apa harimu menyenangkan?”

            “Aku menghabiskan waktu yang hebat, Yah. Empat Juli yang hebat.”

            “Apa kau lapar?”

            “Pasti.”

            “Apa yang kau lakukan pada sepatumu?”

            “Aku meninggalkannya di wagon milik keluarga Garner.”

            “Ayo kita ke dapur.”

            Ayah Nick berjalan membawa lentera. Ia berhenti dan membuka penutup kotak es. Nick memasuki dapur. Ayahnya meletakan sepotong ayam dingin ke atas piring dan mengambil sekendi susu dan meletakkannya ke atas meja di hadapan Nick. Ia meletakkan lentera.

            “Kita juga masih punya pai,” katanya. “Apa itu bisa membuatmu kenyang?”

            “Ini mantap.”

            Ayahnya duduk di kursi di samping meja berlapis kain anti minyak. Ia menciptakan bayangan besar pada dinding dapur.

            “Siapa yang memenangkan permainan bola?”

            “Petoskey. Lima lawan tiga.”

            Ayahnya melihat ia makan dan memenuhi gelasnya dengan susu dari kendi. Nick menenggaknya dan mengelap mulutnya dengan serbet. Ayahnya meraih loyang pai dari atas rak. Ia memberi Nick satu potongan besar. Itu adalah pai huckleberry.

            “Apa yang Ayah lakukan hari ini?”

            “Ayah pergi memancing di pagi hari.”

            “Apa yang Ayah dapatkan?”

            “Hanya ikan perch.”

            Ayahnya duduk memandangi Nick menikmati pai.

            “Apa yang Ayah lakukan tadi sore?” tanya Nick.

            “Ayah berjalan-jalan di sekitar perkampungan Indian.”

            “Apa Ayah bertemu seseorang?”

            “Semua orang Indian pergi mabuk-mabukan di kota.”

            “Ayah tidak bertemu seorang pun sama sekali?”

            “Ayah melihat temanmu, si Prudie.”

            “Di mana dia?”

            “Dia di dalam hutan bersama Frank Washburn. Ayah berlari ke arah mereka. Mereka sedang melakukan sesuatu.”

            Ayahnya tidak memandanginya.

            “Apa yang mereka lakukan?”

            “Ayah tidak berada di sana cukup lama untuk tahu.”

            “Katakan padaku apa yang mereka lakukan.”

            “Ayah tidak tahu,” kata ayahnya. “Ayah hanya mendengar suara mereka di sekitar Ayah.”

            “Bagaimana Ayah tahu itu mereka?”

            “Ayah melihat mereka.”

            “Aku pikir Ayah bilang tidak melihat mereka.”

            “Oh, ya, Ayah melihat mereka.”

            “Siapa yang bersama gadis itu?” tanya Nick.

            “Frank Washburn.”

            “Apa mereka—apa mereka—”

            “Apa mereka apa?”

            “Apa mereka bahagia?”

            “Ayah kira begitu.”

            Ayahnya bangkit dari meja dan berjalan keluar melalui pintu kasa dapur. Ketika ia kembali Nick sedang menatap piringnya. Ia habis menangis.

            “Mau lagi?” Ayahnya meraih pisau untuk memotong kue pai.

            “Tidak,” kata Nick.

            “Lebih baik kau makan sepotong lagi.”

            “Tidak. Aku tidak mau lagi.”

            Ayahnya membereskan meja makan.

            “Ke mana mereka pergi di dalam hutan?” tanya Nick.

            “Kembali ke perkampungan.” Nick menatap piringnya. Ayahnya berkata, “Sebaiknya kau pergi tidur, Nick.”

            “Baiklah.”

            Nick berjalan menuju kamarnya, melepas pakaiannya, dan berbaring di atas ranjang. Ia mendengar ayahnya mondar-mandir di ruang tamu. Nick berbaring di ranjangnya dengan muka terbenam pada bantal.

            “Hatiku hancur,” pikirnya. “Kalau ini yang aku rasakan pasti hatiku telah hancur.”

            Sejenak kemudian ia mendengar ayahnya meniup api lentera dan pergi ke kamarnya sendiri. Ia mendengar angin menderu di pepohonan di luar dan merasakan hawa dinginnya masuk melalui tabir. Ia berbaring cukup lama dengan wajah terbenam pada bantal, dan sejenak kemudian ia lupa akan pikirannya mengenai Prudence dan akhirnya ia tertidur. Ketika ia terbangun pada tengah malam ia mendengar angin menderu-deru pohon cemara di luar pondok dan ombak danau mengempas-empas ke tepian, dan ia kembali tertidur. Di pagi hari angin kencang bertiup dan ombak tinggi menerjang tepian dan ia terbangun lama sekali sebelum ia teringat bahwa hatinya telah hancur.

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “Ten Indians”, The Complete Short Stories of Ernest Hemingway (1987, The Finca Vigia Edition, New York))

Loquat

Oleh: Etgar Keret

“Ayo, Henri, bicaralah pada mereka. Kau ini seorang gendarme, mereka akan mendengarkanmu.”

            Aku meletakkan cangkir kopiku yang kosong dan menggerakkan kakiku di bawah meja, mencari sandalku. “Berapa kali harus kujelaskan padamu, Nenek? Aku ini bukan gend—bukan polisi. Aku ini tentara, seorang soldat. Aku tidak punya urusan dengan mereka, jadi untuk apa mereka mesti mendengarkan apa yang hendak kukatakan?”

            “Sebab tubuhmu tinggi seperti gedung dan kau memakai seragam gendarme—”

            “Soldat, Nenek.”

            “Baiklah kau ini soldat, lalu apa bedanya? Temui mereka sambil membawa pistolmu dan katakan pada mereka jika mereka memanjat pohon loquat kita sekali lagi, kau akan melempar mereka ke dalam calabouse* dan menembak mereka, atau apalah, yang penting mereka tidak memasuki pekarangan kita lagi…”

            Mata sayu nenek kini basah, dan memerah. Dia sangat membenci bocah-bocah itu. Wanita tua itu tidak selalu berada di sana, namun bagaimanapun aku mengiyakannya dengan ogah-ogahan. Malam itu, aku mendengar mereka di pohon tersebut. Aku mengenakan celana pendek dan kaus dalam tak berlengan dan berkata pada Nenek aku akan keluar untuk menemui mereka.

            “Tidak,” katanya, menghalangi jalanku di ambang pintu, memegang seragamku yang telah disetrika. “Kau tidak akan menemui mereka dengan pakaian seperti itu. Pakai seragammu.”

            “Letakkan itu, Nenek,” kataku, mencoba melewatinya. Dengan keras kepala dia bersandar pada pintu, menyodorkan seragam ke tanganku.

            “Seragammu,” katanya tegas.

            Aku berjalan menuruni tangga depan, dengan dia yang melompat turun di belakangku. Aku merasa dipermalukan dengan berlagak seperti seorang model berpakaian tentara. Dia bahkan menyuruhku memakai lencana kesatuanku. “Henri, kau melupakan ini,” dia berbisik dengan suara seraknya dan menyodorkan Uzi**, terisi peluru dan siap tembak. Andai komandanku melihatku memegang senjata di tangan seperti ini, aku akan diskors selama dua minggu.

            Aku merebut senjata itu dari tangannya, mengeluarkan magasin, dan dengan hati-hati memasang pengamannya. Sebutir peluru terlempar jatuh dari moncong senapan ke atas rumput. “Kenapa kau memberiku senjata ini, apa kau gila? Mereka hanya anak kecil.”

            Aku kembalikan senapan itu kepadanya, namun dia menyodorkannya kembali ke tanganku. “Mereka bukan anak kecil, mereka binatang,” katanya tegas.

            “Baik, Nenek, aku akan membawa senapan ini.” Aku menerimanya sambil melenguh pasrah dan mencium pipinya. “Sekarang masuklah.”

           “Oh, gendarme kecilku,” katanya, bertepuk tangan gembira. Dipenuhi rasa puas atas kemenangan kecilnya, dia kembali ke beranda dengan melompati beberapa anak tangga.

            “Soldat,” bentakku padanya. “Demi setan, aku bukan polisi sialan.” Dan aku menuruni sisa anak tangga.

            Bocah-bocah di pohon loquat terus membuat kegaduhan dan mematahkan beberapa batang. Aku berencana melepas seragamku, menyelimutkan senapanku di dalamnya, dan menyembunyikannya di balik semak sehingga kurang lebih diriku akan terlihat normal ketika mendatangi mereka, namun pandangan nenek yang mengintip di balik tirai jendela menggagalkan rencanaku. Aku berjalan ke arah seorang bocah yang sedang memanjat pohon, meraih kausnya, dan menjatuhkannya ke tanah. “Yallah,” pekikku, “semuanya turun dari pohon. Ini properti pribadi.”

            Ada sedetik kesunyian, lalu sebuah jawaban terdengar dari seseorang di ketinggian pohon. “Oh, aku sangat takut. Seorang tentara. Kau mau membunuh kami, Tuan Tentara?” Sebutir loquat busuk menghantam kepalaku.

            Bocah yang kujatuhkan ke tanah bangkit dan menatapku dengan jijik. “Pegawai bodoh,” katanya. “Abangku anggota dari pasukan kesatuan tempur, selalu mengutuki pekerjaannya, dan kau tidak malu berkeliaran sambil memakai lencana kesatuan pengecut dari Tel Aviv itu?” Ia mengulum segumpal lendir di mulutnya dan meludahkannya ke bajuku. Aku memukul kepalanya cukup keras hingga membuatnya terjatuh.

            Bagaimana bisa berdebah kecil itu tahu soal lencana?

            “Apa kalian lihat si bangsat itu memukul Meron?” seseorang berteriak dari atas pohon.

            “Hei, homo, apa yang kau lakukan berjalan-jalan memakai seragammu pada Jumat malam?” teriak seorang lain. “Kau tidak mampu membeli Levi’s?”

            “Jika ia sangat bersemangat untuk menjadi tentara, ayo kita beri ia pemberontakan supaya ia tidak bosan,” pekik si bocah pertama, dan bocah yang memanjat pohon mulai melempari loquat. Aku mencoba memanjat dan menangkapnya, tapi itu nyaris mustahil, dengan adanya senapan dan sebagainya.

            Tiba-tiba, sebongkah batu mendarat di pundakku, dan ternyata ada satu bocah lagi di balik semak-semak. “Enyahlah,” teriaknya sambil mengacungkan jari tengah. Bajingan betul bocah-bocah itu. Sebelum aku mampu mengejarnya, bocah yang meludahiku bangkit, seluruh wajahnya berlumuran lumpur, menendang biji pelerku, dan langsung kabur. Pandanganku memerah dan kami bertubrukan setelah aku berjalan tiga langkah. Aku menarik bajunya dari belakang dan ia terjatuh. Aku langsung menghajarnya. Bocah yang melempar batu melompat ke punggungku, dan dua yang lain turun dari pohon untuk membantunya. Mereka menempel pada tubuhku seperti lintah. Salah satunya menggigit leherku. Aku mencoba mengenyahkan mereka dan kami semua terjatuh ke kubangan lumpur. Aku menghantam mereka ke kanan dan ke kiri. Tapi para bajingan cebol itu tidak mengenal rasa takut. Mereka tidak mau menyerah tak peduli betapa sering aku memukul mereka. Aku memegang dua dari mereka di setiap tanganku dan menggoncang-goncang yang ketiga di satu kakiku ketika tiba-tiba si Meron, yang tampaknya pemimpin gerombolan itu, menghantam kepalaku dengan sebongkah batu. Dunia berputar, dan aku merasakan darah mengalir di dahiku. Aku mendengar rentetan tembakan dan menyadari bahwa senapanku lenyap dari genggaman. Benda itu pasti terjatuh ketika kami bergumul di kubangan lumpur.

            “Tinggalkan cucuku sendiri, sales bêtes***.” Aku mendengar suara nenekku. “Kalau tidak aku akan menghajar kalian semua seperti gurame di dalam bak mandi.”

            Aku tidak tahu apakah itu nyata atau aku sedang bermimpi. “Awas, wanita tua itu gila.” Aku mendengar suara Meron dan merasa tangan-tangan terlepas dari tubuhku.

            “Dan pergi dari sini, sekarang,” aku mendengar nenekku menyuruh mereka, lalu suara kaki-kaki menginjak kubangan lumpur.

            “Lihat bagaimana mereka mengotori seragam gendarme-mu,” katanya, dan aku bisa merasakan tangannya menyentuh bahuku. “Dan mereka melukai kepalamu,” lanjutnya meratapi. “Ya sudah, aku akan merawatmu dan mencuci seragammu supaya terlihat seperti baru. Dan biar Tuhan yang mengurus bocah-bocah itu. Ayo pulang, Henri, di sini semakin dingin.” Aku bangkit, dan dunia terus berputar dan berputar.

            “Katakan padaku, Nek,” tanyaku, “dari mana kau belajar mengisi peluru dan menembak seperti itu?”

            “Dari film Jacques Norris. Itu pernah diputar di TV, sebelum petugas kabel sialan itu mengganti filmnya,” kenangnya dengan marah, “dan membawa kabur uangku. Besok kau akan mengenakan seragam gendarme-mu dan menuntut balas ke tempatnya juga.”

            “Nenek!” bentakku penuh amarah, dahiku seperti terbakar api neraka.

            “Maaf, Henri. Soldat,” katanya meminta maaf dan melompati beberapa anak tangga sekaligus.

***

*: Penjara

**: Sejenis senjata otomatis yang dipakai tentara Israel. Penjelasan lebih lengkap di sini.

***: Binatang kotor

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “Loquat”, The Girl on the Fridge (2008, Farrar, Straus and Giroux) karya Etgar Keret. Diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger dan Sondra Silverston)