Loquat

Oleh: Etgar Keret

“Ayo, Henri, bicaralah pada mereka. Kau ini seorang gendarme, mereka akan mendengarkanmu.”

            Aku meletakkan cangkir kopiku yang kosong dan menggerakkan kakiku di bawah meja, mencari sandalku. “Berapa kali harus kujelaskan padamu, Nenek? Aku ini bukan gend—bukan polisi. Aku ini tentara, seorang soldat. Aku tidak punya urusan dengan mereka, jadi untuk apa mereka mesti mendengarkan apa yang hendak kukatakan?”

            “Sebab tubuhmu tinggi seperti gedung dan kau memakai seragam gendarme—”

            “Soldat, Nenek.”

            “Baiklah kau ini soldat, lalu apa bedanya? Temui mereka sambil membawa pistolmu dan katakan pada mereka jika mereka memanjat pohon loquat kita sekali lagi, kau akan melempar mereka ke dalam calabouse* dan menembak mereka, atau apalah, yang penting mereka tidak memasuki pekarangan kita lagi…”

            Mata sayu nenek kini basah, dan memerah. Dia sangat membenci bocah-bocah itu. Wanita tua itu tidak selalu berada di sana, namun bagaimanapun aku mengiyakannya dengan ogah-ogahan. Malam itu, aku mendengar mereka di pohon tersebut. Aku mengenakan celana pendek dan kaus dalam tak berlengan dan berkata pada Nenek aku akan keluar untuk menemui mereka.

            “Tidak,” katanya, menghalangi jalanku di ambang pintu, memegang seragamku yang telah disetrika. “Kau tidak akan menemui mereka dengan pakaian seperti itu. Pakai seragammu.”

            “Letakkan itu, Nenek,” kataku, mencoba melewatinya. Dengan keras kepala dia bersandar pada pintu, menyodorkan seragam ke tanganku.

            “Seragammu,” katanya tegas.

            Aku berjalan menuruni tangga depan, dengan dia yang melompat turun di belakangku. Aku merasa dipermalukan dengan berlagak seperti seorang model berpakaian tentara. Dia bahkan menyuruhku memakai lencana kesatuanku. “Henri, kau melupakan ini,” dia berbisik dengan suara seraknya dan menyodorkan Uzi**, terisi peluru dan siap tembak. Andai komandanku melihatku memegang senjata di tangan seperti ini, aku akan diskors selama dua minggu.

            Aku merebut senjata itu dari tangannya, mengeluarkan magasin, dan dengan hati-hati memasang pengamannya. Sebutir peluru terlempar jatuh dari moncong senapan ke atas rumput. “Kenapa kau memberiku senjata ini, apa kau gila? Mereka hanya anak kecil.”

            Aku kembalikan senapan itu kepadanya, namun dia menyodorkannya kembali ke tanganku. “Mereka bukan anak kecil, mereka binatang,” katanya tegas.

            “Baik, Nenek, aku akan membawa senapan ini.” Aku menerimanya sambil melenguh pasrah dan mencium pipinya. “Sekarang masuklah.”

           “Oh, gendarme kecilku,” katanya, bertepuk tangan gembira. Dipenuhi rasa puas atas kemenangan kecilnya, dia kembali ke beranda dengan melompati beberapa anak tangga.

            “Soldat,” bentakku padanya. “Demi setan, aku bukan polisi sialan.” Dan aku menuruni sisa anak tangga.

            Bocah-bocah di pohon loquat terus membuat kegaduhan dan mematahkan beberapa batang. Aku berencana melepas seragamku, menyelimutkan senapanku di dalamnya, dan menyembunyikannya di balik semak sehingga kurang lebih diriku akan terlihat normal ketika mendatangi mereka, namun pandangan nenek yang mengintip di balik tirai jendela menggagalkan rencanaku. Aku berjalan ke arah seorang bocah yang sedang memanjat pohon, meraih kausnya, dan menjatuhkannya ke tanah. “Yallah,” pekikku, “semuanya turun dari pohon. Ini properti pribadi.”

            Ada sedetik kesunyian, lalu sebuah jawaban terdengar dari seseorang di ketinggian pohon. “Oh, aku sangat takut. Seorang tentara. Kau mau membunuh kami, Tuan Tentara?” Sebutir loquat busuk menghantam kepalaku.

            Bocah yang kujatuhkan ke tanah bangkit dan menatapku dengan jijik. “Pegawai bodoh,” katanya. “Abangku anggota dari pasukan kesatuan tempur, selalu mengutuki pekerjaannya, dan kau tidak malu berkeliaran sambil memakai lencana kesatuan pengecut dari Tel Aviv itu?” Ia mengulum segumpal lendir di mulutnya dan meludahkannya ke bajuku. Aku memukul kepalanya cukup keras hingga membuatnya terjatuh.

            Bagaimana bisa berdebah kecil itu tahu soal lencana?

            “Apa kalian lihat si bangsat itu memukul Meron?” seseorang berteriak dari atas pohon.

            “Hei, homo, apa yang kau lakukan berjalan-jalan memakai seragammu pada Jumat malam?” teriak seorang lain. “Kau tidak mampu membeli Levi’s?”

            “Jika ia sangat bersemangat untuk menjadi tentara, ayo kita beri ia pemberontakan supaya ia tidak bosan,” pekik si bocah pertama, dan bocah yang memanjat pohon mulai melempari loquat. Aku mencoba memanjat dan menangkapnya, tapi itu nyaris mustahil, dengan adanya senapan dan sebagainya.

            Tiba-tiba, sebongkah batu mendarat di pundakku, dan ternyata ada satu bocah lagi di balik semak-semak. “Enyahlah,” teriaknya sambil mengacungkan jari tengah. Bajingan betul bocah-bocah itu. Sebelum aku mampu mengejarnya, bocah yang meludahiku bangkit, seluruh wajahnya berlumuran lumpur, menendang biji pelerku, dan langsung kabur. Pandanganku memerah dan kami bertubrukan setelah aku berjalan tiga langkah. Aku menarik bajunya dari belakang dan ia terjatuh. Aku langsung menghajarnya. Bocah yang melempar batu melompat ke punggungku, dan dua yang lain turun dari pohon untuk membantunya. Mereka menempel pada tubuhku seperti lintah. Salah satunya menggigit leherku. Aku mencoba mengenyahkan mereka dan kami semua terjatuh ke kubangan lumpur. Aku menghantam mereka ke kanan dan ke kiri. Tapi para bajingan cebol itu tidak mengenal rasa takut. Mereka tidak mau menyerah tak peduli betapa sering aku memukul mereka. Aku memegang dua dari mereka di setiap tanganku dan menggoncang-goncang yang ketiga di satu kakiku ketika tiba-tiba si Meron, yang tampaknya pemimpin gerombolan itu, menghantam kepalaku dengan sebongkah batu. Dunia berputar, dan aku merasakan darah mengalir di dahiku. Aku mendengar rentetan tembakan dan menyadari bahwa senapanku lenyap dari genggaman. Benda itu pasti terjatuh ketika kami bergumul di kubangan lumpur.

            “Tinggalkan cucuku sendiri, sales bêtes***.” Aku mendengar suara nenekku. “Kalau tidak aku akan menghajar kalian semua seperti gurame di dalam bak mandi.”

            Aku tidak tahu apakah itu nyata atau aku sedang bermimpi. “Awas, wanita tua itu gila.” Aku mendengar suara Meron dan merasa tangan-tangan terlepas dari tubuhku.

            “Dan pergi dari sini, sekarang,” aku mendengar nenekku menyuruh mereka, lalu suara kaki-kaki menginjak kubangan lumpur.

            “Lihat bagaimana mereka mengotori seragam gendarme-mu,” katanya, dan aku bisa merasakan tangannya menyentuh bahuku. “Dan mereka melukai kepalamu,” lanjutnya meratapi. “Ya sudah, aku akan merawatmu dan mencuci seragammu supaya terlihat seperti baru. Dan biar Tuhan yang mengurus bocah-bocah itu. Ayo pulang, Henri, di sini semakin dingin.” Aku bangkit, dan dunia terus berputar dan berputar.

            “Katakan padaku, Nek,” tanyaku, “dari mana kau belajar mengisi peluru dan menembak seperti itu?”

            “Dari film Jacques Norris. Itu pernah diputar di TV, sebelum petugas kabel sialan itu mengganti filmnya,” kenangnya dengan marah, “dan membawa kabur uangku. Besok kau akan mengenakan seragam gendarme-mu dan menuntut balas ke tempatnya juga.”

            “Nenek!” bentakku penuh amarah, dahiku seperti terbakar api neraka.

            “Maaf, Henri. Soldat,” katanya meminta maaf dan melompati beberapa anak tangga sekaligus.

***

*: Penjara

**: Sejenis senjata otomatis yang dipakai tentara Israel. Penjelasan lebih lengkap di sini.

***: Binatang kotor

(Diterjemahkan oleh Irman Hidayat dari “Loquat”, The Girl on the Fridge (2008, Farrar, Straus and Giroux) karya Etgar Keret. Diterjemahkan dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Inggris oleh Miriam Shlesinger dan Sondra Silverston)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s